Ditolak di 200 Lowongan Kerja, Insan Fauzi Kini Justru Bisa Mempekerjakan Puluhan orang Pegawai
Insan Fauzi (27) warga Perumahan Hegarmanah Asri Desa Hegarmanah Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung tak menyangka usaha pembuatan pakaian jadi yang ia rintis sejak 2021 akan berkembang dengan cepat. Pasalnya, sebelum ia menggeluti usaha pakaian jadi ini, ia sempat "luntang-lantung" tak memiliki pekerjaan tetap, bahkan sempat memasukan lamaran kerja kurang lebih ke 200 perusahaan pun tak kunjung diterima.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Soreang- Insan Fauzi (27) warga Perumahan Hegarmanah Asri Desa Hegarmanah Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung tak menyangka usaha pembuatan pakaian jadi yang ia rintis sejak 2021 akan berkembang dengan cepat. Pasalnya, sebelum ia menggeluti usaha pakaian jadi ini, ia sempat "luntang-lantung" tak memiliki pekerjaan tetap, bahkan sempat memasukan lamaran kerja kurang lebih ke 200 perusahaan pun tak kunjung diterima.
"Saya pernah memasukan lamaran kerja sampai ke 200 perusahaan, termasuk mencoba daftar PNS untuk memenuhi keinginan orang tua saya, tapi tidak ada satupun juga yang menerima. Kemudian saya berpikir lebih baik serius menggeluti usaha, awalnya saya usaha tanaman hias kaktus, kemudian jualan sepatu impor Thailand. Nah setelah kedua usaha itu bangkrut karena akun media sosial saya kena hack saya nganggur lagi," kata Insan yang juga lulusan Planologi disalah satu perguruan tinggi swasta ternama di Kota Bandung itu saat ditemui di rumahnya di Cikancung Kabupaten Bandung, Jumat 7 Maret 2025.
Berbekal uang keuntungan hasil berdagang sepatu, Insan mencoba peruntungan dengan membuka usaha membuat pakaian, mulai dari T-shirt, celana, jaket, hoody, tas, kemeja, sandal dan lainnya dengan merek dagang Convergent. Ia pun mempekerjakan empat orang pegawai untuk membantunya. Tapi sayangnya, perjalannnya tak berlangsung mulus, stok pakaian dagangannya tak banyak yang laku terjual sehingga menumpuk di rumahnya.
"Dulu saya hanya berpikir membuat pakaian, desainnya juga beli ke orang lain dan menjualnya secara online dan offline. Tapi ternyata tidak semudah itu, barang saya numpuk, modal saya sekitar Rp. 80 juta sudah habis untuk beli barang dan bayar upah pegawai, nah bahkan sampai enggak bisa bayar upah pegawai lagi," ujarnya.
Meski jatuh bangun dan perjuangannya tidak mudah, Insan tak mau menyerah. Ia terus berusaha menjual pakaian hasil produksinya. Berbagai cara ia lakukan, termasuk menjualnya di media sosial Istagram dan juga di market place seperti Shopee. Bahkan, sampai ia pernah membagi-bagikan pakaian dagangannya itu kepada beberapa artis disalah satu acara ajang pencarian bakat disalah satu TV nasional, dengan harapan dapat mengangkat nama Convergent sebagai mereka dagang usahanya.
"Memang dipakai oleh mereka, dari sekian item itu ada yang berhasil membuat nama Convergent naik, dan mulai dikenal meski tidak terlalu banyak," katanya.
Insan yang dilanda kebingungan, tetap tak mau menyerah, ia terus berusaha memasarkan pakaian hasil produksinya. Termasuk menawar-nawarkan kepada teman-temannya yang ada dihampir semua daerah di Indonesia. Hingga suatu ketika, Insan berjumpa dengan salah satu temannya yang memberikan ilmu atau trik berdagang di market place.
"Saat ketemu teman saya itu cuma tersisa uang Rp. 500 ribu, dia ngajarin saya tentang berdagang di market place. Kalau dulu saya asal-asalan saja jualan di market placenya, cuma unggah gambar produk kita, dan hasilnya juga enggak signifikano. Sama temen saya itu dikasih tahu soal pentingnya beriklan (advertorial) di market place Shopee. Jadi uang saya yang sisa Rp. 500 ribu itu, Rp 300 ribunya saya pakai bayar advertorial di Shopee, yah saat itu cuma Rp. 25 ribu sehari, lalu saya juga mengeluarkan 70 desain baru," katanya.
Dengan membayar advertorial di market place ini, lanjut Insan, usahanya mulai menunjukan hasil positif. Penjualan pakaian miliknya itu mulai naik. Dari hasil penjualan, sebagian keuntungan ya terus ia belanjakan untuk membayar jasa iklan di market place tersebut.
"Memang penjualan saya semuanya melalui online di market place seperti Shopee dan beberapa market place lainnya, cuma yang terbesar tetap di Shopee. Seperti Desember tahun lalu saya mencatatkan 20 ribu penjualan di Shopee, dan Ramadan sekarang saya optimistis bisa mencapai 50 ribu penjualan," katanya.
Jika hari-hari biasa, lanjut Insan, penjualan di toko online nya rata-rata 700 an penjualan. Namun saat bulan Ramadan ini naik menjadi rata-rata sekitar 1500 an penjualan perhari dari semua item dagangannya. Sehingga, pada Ramadan 2023 lalu, ia berhasil membukukan kurang lebih 50 ribu artikel produk yang terjual. Salah satu kunci keberhasilan Insan berdagang di market place yakni membayar jasa advertorial dan mengikuti presale atau memberikan potongan harga kepada pembelinya.
"Setiap hari kami live Shopee lebih dari 12 jam. Dan itu terus konsisten saya lakukan, bahkan saat toko online milik orang lain libur seperti saat malam takbiran, saya tetap live, justru saat orang lain libur pembeli itu banyak. Kalau dirata-ratakan penjualan kami melalui market place ini sekitar 6000 pcs perminggu dari semua item," ujarnya.
Dikatakan Insan, produk pakaian yang ia produksi dan dijualnya menyasar segmen usia 15-30 tahun dengan tema street wear atau pakaian casual untuk sehari-hari anak muda. Jika dulu ia membeli desain gambar dari orang lain, kini ia mempunyai tim desain sendiri. Ia pun seringkali turun tangan mendisain gambar sendiri. Dari semula hanya meperkerjakan satu orang penjahit, kini Insan memiliki sekitar 70 orang pegawai yang terlibat dalam usahanya itu.
Menariknya, Insan pun memperkerjakan ibu-ibu yang tak punya pekerjaan namun memiliki keahlian menjahit. Tempat produksinya pun tersebar di 25 tempat yakni di Soreang, Lembang, Subang dan di Cikancung. Saat ini pun Insan telah memiliki rumah produksi yang sekaligus menjadi kantor dan gudang.
"Kalau pembeli sekitar 60 persen dari luar daerah. Itu merata dari Sabang sampai Merauke, dan untuk pembeli di dalam Bandung pun bagus, karena mereka sudah mulai mengenal Convergent. Harga yang saya jual ini mulai dari Rp. 99 ribu untuk T-Shirt hingga Rp. 259 ribu untuk jaket, Alhamdulilah dagangan saya bisa diterima dengan baik oleh pasar," katanya.
Insan yang bercita-cita menguasai pasar Indonesia dengan produk fasyen disegmen street wear ini sangat bersyukur dengan hasil kerja kerasnya ini. Bahkan, kini ia bisa membuktikan kepada kedua orang tuanya, tanpa harus bekerja kantoran pun ia bisa sukses dengan membuka usaha sendiri. Karena memang, awalnya orang tua Insa ini menginginkan anaknya itu menjadi seorang PNS.
" Kalau dari hasil usaha, sebelumnya saya tidak punya apa-apa, nikah saja cuma punya uang Rp. 800 ribu, sekarang sudah ada rumah, kantor, gudang dan kendaraan. Alhamdulilah dalam waktu dekat ini juga saya sama istri, kedua orang tua, kedua mertua saya mau berangkat ibadah umroh ke tanah suci Mekah," katanya.***
Editor : JakaPermana
