DPRD Tunggu Evaluasi Pinjaman Rp3,4 Triliun
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat meminjam Rp3,4 triliun kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) belum menemukan titik akhir. Skema pembiayaan tersebut masih menunggu hasil evaluasi Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terhadap APBD Perubahan 2026.
Bagi DPRD Jawa Barat, evaluasi itu menjadi tahapan penting. Sebab, di dalamnya dapat muncul catatan pemerintah pusat mengenai opsi pembiayaan yang akan ditempuh Pemprov Jabar.
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono mengatakan, hingga Selasa (6/10/2026), hasil evaluasi Kemendagri belum diterima Pemprov Jabar. Berdasarkan informasi dari Sekretaris Daerah Jawa Barat, evaluasi tersebut diharapkan terbit pekan ini.
"Belum. Evaluasi Kemendagri belum keluar, tapi tadi Pak Sekda sampaikan mudah-mudahan minggu ini. Minggu ini. Minggu ini setelah keluar tentunya akan dibahas kembali oleh Banggar beserta TAPD kan," ujar Ono di DPRD Jabar, Selasa (6/10).
Setelah evaluasi diterima, Badan Anggaran DPRD Jabar bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) akan kembali membahas skema pembiayaan tersebut.
DPRD juga berharap Kemendagri memberikan catatan khusus terkait rencana pinjaman Rp3,4 triliun kepada PT SMI.
"Betul. Nah, mudah-mudahan Kemendagri memberikan catatan secara khusus ya terkait dengan opsi pembiayaan dari pinjaman daerah tersebut," katanya.
Rencana pinjaman itu muncul di tengah tekanan fiskal yang dihadapi Jawa Barat. Pendapatan asli daerah (PAD) menurun, sementara transfer keuangan daerah juga mengalami penurunan.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah dihadapkan pada sejumlah pilihan. Program yang telah direncanakan dan menjadi prioritas bisa saja dikurangi, pendapatan ditingkatkan, atau pembiayaan ditempuh melalui pinjaman.
"Di sisi lain kan kita semua tahu bahwa pendapatan asli daerah turun, transfer keuangan daerah turun, makanya kan harus ada konsekuensi. Harus mengorbankan program-program yang menjadi yang sudah direncanakan dan sudah menjadi prioritas ataukah meningkatkan pendapatan yang tentunya di saat sekarang ini sulit ya untuk meningkatkan pendapatan dengan kondisi ekonomi yang seperti ini, ya atau ya tadi, pinjaman," jelasnya.
(yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran

