Dua Bencana Terjadi Beruntun di KBB, Jeje Minta Pendataan Wilayah Rawan Dipercepat
Dua bencana cuaca ekstrem melanda Bandung Barat. Sebanyak 11 KK terancam longsor di Cisarua, sementara kerusakan puting beliung di Padalarang masih didata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Dua kejadian cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Bandung Barat (KBB) dalam rentang waktu berdekatan menjadi peringatan penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat mitigasi bencana menjelang meningkatnya intensitas hujan.
Angin puting beliung disertai hujan deras menerjang kawasan Pondok Padalarang Indah (PPI), Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Senin (26/10/2026) sekitar pukul 15.23 WIB.
Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah pohon besar tumbang dan menimpa bangunan milik warga di RT 07/27.
Sehari berselang, pergerakan tanah terjadi di Kampung Cisarua Hilir RT 04 RW 03, Desa Sadangmekar, Kecamatan Cisarua, Selasa (27/10/2026) sekitar pukul 19.30 WIB.
Tebing dengan ketinggian sekitar 30 meter dan lebar bidang tanah mencapai 40 meter dilaporkan ambrol. Sedikitnya 10 rumah yang dihuni 11 kepala keluarga (KK) berada di zona berisiko tinggi terdampak longsor.
Kondisi pergerakan tanah tersebut sempat terekam dalam video dan menyebar di media sosial, sehingga memicu kekhawatiran masyarakat terhadap keselamatan warga di sekitar lokasi.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, pemerintah daerah akan melakukan pendataan ulang di kedua lokasi bencana. Namun, dia mengakui keterbatasan anggaran Bantuan Tidak Terduga (BTT) menjadi salah satu kendala dalam pemulihan kerusakan akibat puting beliung di Padalarang.
"Pencegahan bencana tidak boleh baru dilakukan saat bencana sudah terjadi, sehingga apel siaga bencana harus dilanjutkan sampai ke tingkat desa agar camat dan kepala desa lebih cepat mengidentifikasi titik-titik rawan longsor seperti yang ada di Cisarua," kata Jeje saat ditemui di Mapolres Cimahi, Rabu (4/11/2026).
Pendataan Jadi Dasar Penyaluran Bantuan
Jeje menuturkan, pendataan kerusakan akibat puting beliung di Padalarang masih berjalan. Hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar pemerintah daerah sebelum memberikan bantuan pemulihan kepada warga terdampak.
Meski demikian, besaran bantuan yang dapat disalurkan nantinya harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
"Untuk zona longsor Cisarua yang sudah mengancam 11 KK, kami menargetkan pendataan ulang lokasi tersebut dengan melibatkan camat dan kepala desa setempat guna memetakan tingkat risiko tiap rumah warga sebelum hujan deras kembali mengguyur wilayah pegunungan Kecamatan Cisarua," paparnya.
Jeje mengakui pendataan ulang tersebut dinilai terlambat oleh sebagian warga. Pasalnya, tanda-tanda pergerakan tanah sudah terlihat dan informasinya telah tersebar melalui media sosial, sementara verifikasi lapangan kembali dijadwalkan beberapa hari setelah kejadian.
"Tanpa pendataan yang selesai segera, evakuasi warga yang berada tepat di bawah tebing setinggi 30 meter berisiko tertunda ketika hujan deras turun secara tiba-tiba," ujarnya.
Pemerintah daerah diharapkan dapat mempercepat verifikasi kondisi rumah dan tingkat ancaman di sekitar tebing, terutama bagi warga yang berada di area berisiko. Langkah tersebut penting agar penanganan dan keputusan evakuasi dapat dilakukan berdasarkan kondisi lapangan sebelum hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi.***
Editor : JakaPermana

