Estonia Kaji Wajib Militer bagi Perempuan akibat Penurunan Angka Kelahiran
Estonia mengkaji perluasan wajib militer bagi perempuan karena penurunan angka kelahiran diperkirakan menyulitkan pemenuhan target 4.100 personel.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Estonia tengah mengkaji kemungkinan memperluas militer'>wajib militer kepada perempuan di tengah penurunan angka kelahiran yang diperkirakan membuat negara tersebut kesulitan memenuhi kebutuhan personel militer pada masa mendatang.
Direktur Jenderal Badan Sumber Daya Pertahanan Estonia, Anu Rannaveski, mengatakan jumlah peserta wajib militer akan ditingkatkan hingga 4.100 orang per tahun mulai 2027.
Namun, berdasarkan tren demografi, Estonia diperkirakan akan menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan tersebut jika rekrutmen hanya dilakukan terhadap laki-laki pada periode 2035 hingga 2040.
Estonia Pertimbangkan Sistem Lebih Wajib
Rannaveski mengatakan penurunan jumlah kelahiran laki-laki membuat pemerintah perlu mencari cara untuk memenuhi kebutuhan personel wajib militer.
Dalam kondisi tersebut, Estonia dinilai perlu mengembangkan sistem yang memungkinkan keterlibatan perempuan secara lebih besar dalam wajib militer. Namun, hingga kini perempuan di Estonia masih mengikuti wajib militer secara sukarela dan belum ada keputusan untuk memberlakukan kewajiban tersebut kepada seluruh perempuan.
Saat ini, jumlah peserta wajib militer Estonia berada di kisaran 3.600 hingga 3.800 orang per tahun. Mulai tahun depan, jumlah tersebut ditargetkan meningkat menjadi hingga 4.100 orang.
Baru Sekitar 50 Perempuan Ikut Wajib Militer
Perempuan Estonia telah diperbolehkan mengikuti wajib militer secara sukarela sejak 2013. Namun, jumlahnya relatif kecil, yakni sekitar 50 orang per tahun atau sekitar 1 hingga 2 persen dari keseluruhan peserta wajib militer.
Rannaveski mengatakan jumlah perempuan yang mengikuti wajib militer sempat mencapai 60 orang pada beberapa tahun, sementara pada tahun lainnya sekitar 45 orang. Secara umum, angkanya tetap berada di sekitar 50 orang per tahun.
Menurut data yang disampaikan ERR, Estonia mencatat 9.240 kelahiran pada 2025, terdiri atas 4.789 bayi laki-laki. Tren tersebut menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan dalam perencanaan kebutuhan personel pertahanan negara.
Pelajari Sistem Norwegia, Swedia dan Denmark
Dalam menyusun kemungkinan kebijakan baru, Estonia juga melihat pengalaman negara-negara Eropa yang telah menerapkan sistem wajib militer yang melibatkan perempuan, termasuk Norwegia, Swedia dan Denmark.
Rannaveski menjelaskan bahwa sistem di negara-negara tersebut tidak serta-merta mewajibkan seluruh perempuan menjalani wajib militer. Terdapat kriteria tertentu, termasuk motivasi, pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dibutuhkan militer.
Pada September 2026, delegasi Kementerian Pertahanan Estonia bahkan melakukan kunjungan ke Denmark untuk mempelajari pengalaman negara tersebut dalam menerapkan wajib militer bagi laki-laki dan perempuan. Pemerintah Denmark menyebut Estonia masih mengkaji berbagai kemungkinan dan belum mengambil keputusan untuk menerapkan wajib militer bagi perempuan.
Rannaveski mengatakan Estonia perlu menemukan model yang sesuai dengan kebutuhan negaranya. Ia juga mengingatkan bahwa penerapan wajib militer kepada seluruh perempuan secara otomatis belum tentu menjadi solusi karena jumlah calon peserta bisa melebihi posisi yang tersedia.***
Editor : JakaPermana
