Fantastis! Batu Giok 5.000 Ton di Aceh Bisa Bernilai Triliunan, Begini Perkiraan Harganya

Fantastis! Batu Giok 5.000 Ton di Aceh Bisa Bernilai Triliunan, Begini Perkiraan Harganya

Fantastis! Batu Giok 5.000 Ton di Aceh Bisa Bernilai Triliunan, Begini Perkiraan Harganya
harga batu giok yang ditemukan di aceh

INILAHKORAN - Penemuan bongkahan batu giok raksasa di kawasan hutan Kecamatan Beutong, Kabupaten Nagan Raya, Aceh, tengah menyita perhatian publik. Pasalnya, batu yang diperkirakan memiliki berat mencapai 5.000 ton itu disebut-sebut bisa bernilai fantastis jika dikonversikan ke harga pasar saat ini.

Meski belum ada perhitungan resmi, sejumlah data harga batu giok di pasaran memberikan gambaran kasar mengenai potensi nilai ekonomi dari temuan langka tersebut.

Mengacu pada data dari pasar batu giok Aceh, jenis giok berkualitas tinggi atau yang dikenal dengan sebutan giok super bisa mencapai Rp60 juta hingga Rp100 juta per kilogram. Sementara batu giok kualitas sedang berada di kisaran Rp100 ribu hingga Rp500 ribu per kilogram.

Dari estimasi itu, jika batu seberat 5.000 ton atau sekitar 5 juta kilogram tersebut hanya terdiri dari bahan baku biasa, nilainya bisa mencapai sekitar Rp500 miliar.

Namun, jika 1 persen saja dari total batuan itu termasuk kategori giok super (sekitar 50 ton atau 50 ribu kilogram) dengan harga rata-rata Rp50 juta/kg, maka nilainya bisa menyentuh Rp2,5 triliun.
Dalam skenario paling optimistis, di mana sebagian besar batu berkualitas premium, nilai totalnya bahkan berpotensi mencapai puluhan triliun rupiah.

Faktor Penentu Nilai Batu Giok

Beberapa faktor utama yang memengaruhi harga batu giok antara lain:

  1. Kualitas batu: Jenis nephrite dan idocrase dengan warna bening atau bermotif “tali air” bernilai lebih tinggi.
  2. Persentase batu berkualitas tinggi: Hanya sebagian kecil batu yang bisa dikategorikan sebagai giok super.
  3. Lokasi dan proses evakuasi: Batu tersebut berada di area hutan terpencil, sehingga biaya pengangkutan dan pemrosesan bisa tinggi.
  4. Aspek legalitas dan lingkungan: Penambangan diatur ketat oleh regulasi pertambangan dan konservasi alam.

Tujuan pemanfaatan: Batu ini kabarnya akan digunakan untuk pembangunan Masjid Agung Baitul ‘Ala atau dikenal sebagai Masjid Giok Aceh, sehingga nilainya lebih ke arah simbolis dan keagamaan.


Editor : Firda Rachmawati