Farhan Siapkan Sistem Perlindungan Pemain EPA Persib Usai Penyerangan di Batang
Muhammad Farhan, EPA Persib, Akademi Persib, penyerangan bus Persib, Rest Area Batang KM 360, perlindungan pemain muda, Pemkot Bandung, trauma psikologis pemain
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Wali Kota Bandung Muhammad Farhan berencana memperkuat sistem perlindungan bagi pemain Akademi Persib atau Elite Pro Academy (EPA) saat melakukan perjalanan ke luar kota. Langkah tersebut menyusul insiden penyerangan bus rombongan pemain EPA Persib di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, Minggu (11/10/2026).
Farhan mengecam dugaan tindakan kekerasan yang menimpa para pemain muda Persib. Menurutnya, keselamatan dan keamanan atlet akademi harus menjadi perhatian serius agar mereka dapat menjalani pembinaan dan meniti karier di dunia sepak bola tanpa ancaman kekerasan.
“Saya sangat prihatin dan mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan oleh oknum terhadap para siswa Akademi Persib. Sejak bergabung dengan Persib pada 2013, saya termasuk pihak yang menginisiasi berdirinya diklat Persib hingga berkembang menjadi Akademi Persib,” kata Farhan, Senin (12/10/2026).
Farhan mengaku marah setelah mendengar kabar penyerangan yang menimpa para pemain muda tersebut. Dia menegaskan, dugaan tindak pidana dalam insiden itu harus diusut oleh kepolisian di Jawa Tengah dengan dukungan manajemen Persib.
“Saya benar-benar marah ketika mendengar adanya peristiwa kekerasan yang menimpa para pemain muda tersebut. Saya akan memastikan peristiwa ini diusut oleh kepolisian di Jawa Tengah. Bersama manajemen Persib, kami akan mendorong pengusutan terhadap dugaan tindak pidana dalam kasus ini,” ujarnya.
Farhan Koordinasi dengan Manajemen Persib
Selain mendorong proses hukum, Farhan akan berkoordinasi dengan manajemen Persib untuk menyusun mekanisme perlindungan yang lebih jelas bagi tim akademi. Koordinasi tersebut mencakup informasi jadwal pertandingan hingga perjalanan tim saat berlaga di luar kota.
Menurut Farhan, tim utama Persib sudah memiliki mekanisme perlindungan tersendiri. Namun, sistem keamanan bagi pemain akademi dinilai perlu diperkuat agar keselamatan mereka tetap terjaga selama perjalanan, terutama ketika menghadapi situasi yang berpotensi mengancam keamanan rombongan.
“Tim profesional atau tim utama Persib sudah memiliki mekanisme tersendiri. Namun, untuk tim akademi, mekanisme perlindungannya perlu diperkuat. Karena itu, kita akan membangun sistem perlindungan yang lebih jelas ketika tim akademi melakukan perjalanan ke luar kota,” tuturnya.
Farhan juga berencana menemui orang tua para pemain untuk mendengar masukan secara langsung sekaligus mengetahui kondisi anak-anak mereka setelah mengalami insiden tersebut.
Menurutnya, perlindungan terhadap atlet muda merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keselamatan warga Kota Bandung dari kekerasan, ancaman, maupun intimidasi.
Pemain EPA Persib Berpotensi Alami Trauma Psikologis
Selain aspek keamanan, Farhan menaruh perhatian terhadap kondisi psikologis para korban. Insiden penyerangan dinilai berpotensi meninggalkan trauma sehingga pendampingan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pemain.
“Saya akan mengupayakan pendampingan karena peristiwa seperti ini berpotensi menimbulkan trauma psikologis atau post-traumatic stress. Saya ingin berbicara terlebih dahulu dengan para pemain dan melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan mereka,” jelasnya.
Setelah asesmen dilakukan, Farhan akan menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan, termasuk kemungkinan melibatkan tim psikologi klinis. Langkah tersebut diharapkan membantu para pemain menghadapi dampak psikologis setelah mengalami insiden kekerasan.
Manajemen Persib sebelumnya telah mengklarifikasi bahwa seluruh rombongan Akademi Persib sudah kembali ke Kota Bandung dengan selamat. Tidak ada personel, atlet, maupun anggota keluarga yang tertinggal di Rest Area Batang KM 360.
Meski seluruh rombongan telah kembali, Farhan menyebut sejumlah orang mengalami luka akibat pecahan kaca dan dugaan penganiayaan. Kondisi para korban serta dugaan tindak pidana dalam insiden tersebut masih menjadi perhatian dan perlu ditindaklanjuti melalui proses hukum.
“Namun, ada yang mengalami luka akibat pecahan kaca dan ada pula yang terluka karena dugaan penganiayaan. Hal itulah yang masih terus kita selidiki. Kita ingin memastikan kepolisian mengusut kasus tersebut dan menegakkan keadilan bagi para korban,” ujarnya.
Terkait kebutuhan penanganan dan pendampingan korban, Farhan memastikan anggaran yang tersedia dapat dimanfaatkan. Apabila diperlukan tambahan dana, Pemerintah Kota Bandung akan mengupayakan dukungan melalui sumber pendanaan filantropi.
“Anggaran yang tersedia sudah jelas. Apabila nanti dibutuhkan tambahan dana, kami akan berupaya mencarinya melalui sumber pendanaan filantropi. Yang terpenting, para korban mendapatkan perlindungan dan pendampingan sesuai kebutuhan mereka,” pungkasnya.***
Editor : JakaPermana
