Generasi Ke-9 Penjual Domba Kurban di Kota Bandung Tetap Bertahan di Tengah Perubahan
Deretan domba memenuhi lapak penjualan hewan kurban di kawasan Cinambo, Kota Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Deretan domba memenuhi lapak penjualan hewan kurban di kawasan Cinambo, Kota Bandung.
Di tengah ramainya pembeli menjelang Iduladha, seorang pria tampak sibuk memberi pakan sekaligus melayani calon pembeli.
Dia adalah Wawan Ridwan, generasi ke-9 penerus usaha jual beli domba yang diwariskan keluarganya secara turun-temurun.
Usaha ternak dan penjualan domba itu sudah dijalani keluarganya selama puluhan tahun. Wawan mengatakan, usaha tersebut bermula dari orang tuanya dan kini terus dilanjutkan oleh anak-anaknya.
“Saya jualan domba ini sudah turun-temurun dari orang tua. Sekarang dilanjutkan lagi sama anak-anaknya. Saya generasi ke-9,” kata Wawan Ridwan saat ditemui di lapak penjualan hewan kurban di kawasan Cinambo, Senin (11/5/2026).
Menjelang Iduladha tahun ini, Wawan membawa sekitar 100 ekor domba lebih dulu. Jumlah itu nantinya akan terus ditambah secara bertahap hingga mencapai 200 ekor.
“Kalau yang sekarang baru dibawa sekitar 100 ekor. Nanti kalau sudah laku setengahnya, saya tambah lagi sampai total 200 ekor,” ucapnya.
Dalam satu musim Iduladha, penjualan dombanya bisa mencapai 150 hingga 200 ekor. Pembelinya pun datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Kota Bandung.
“Ada yang dari Bogor, ada juga dari Cirebon. Kadang saya antar langsung kalau pembelinya minta,” ujar dia.
Domba-domba yang dijual Wawan berasal dari sejumlah daerah di Jawa Barat seperti Tanjungsari, Garut dan Majalaya. Sebagian lainnya, berasal dari hasil ternak sendiri yang dikelola keluarga di kawasan Pasir Angin.
“Sebagian ternak sendiri, peninggalan orang tua juga. Saya beli indukan betina lalu dikawinkan, nanti anaknya ada yang dijual kalau memang sudah layak,” ucapnya.
Harga domba yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp2,5 juta hingga Rp9 juta per ekor. Domba dengan harga tinggi, biasanya berasal dari kelas unggulan atau keturunan domba adu.
“Yang mahal biasanya domba kelas A, ada juga yang jebolan domba adu,” ujar Wawan.
Di balik ramainya penjualan saat musim kurban, Wawan mengaku ada banyak tantangan yang harus dihadapi para peternak dan pedagang domba. Salah satunya saat musim hujan, yang membuat pencarian rumput menjadi lebih sulit.
“Kalau musim hujan susah cari rumput. Kadang kondisi domba juga harus benar-benar dijaga supaya tidak kurus atau sakit,” ucapnya.
Menurut Wawan, usaha domba yang dijalaninya bukan sekadar bisnis musiman menjelang Iduladha. Selain untuk kurban, dia juga melayani kebutuhan akikah dan penjualan bibit ternak.
“Ini bukan usaha musiman. Dari dulu keluarga saya memang hidup dari ternak domba,” ujar dia.
Wawan juga tergabung dalam HPDKI atau Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia wilayah Bandung. Dia menilai, keberadaan komunitas peternak membantu menjaga kualitas ternak sekaligus keberlangsungan usaha peternakan rakyat.
Selain menjaga kualitas ternak, kesehatan hewan kurban juga menjadi perhatian utama menjelang Iduladha. Menurutnya, seluruh hewan yang dijual harus melalui pemeriksaan kesehatan dari dinas terkait.
“Dari dinas ada pemeriksaan, mana yang layak dan mana yang tidak. Nanti hewan yang lolos diberi tanda atau kalung,” ucapnya.
Bagi Wawan meneruskan usaha keluarga bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga menjaga warisan yang telah dibangun lintas generasi. Di tengah modernisasi dan perubahan zaman, tradisi jual beli domba kurban itu masih terus bertahan hingga sekarang.***
Editor : JakaPermana
