Guru Besar Fikom Unisba : Fenomena Koin Jagat Bukti Terjadinya Hiperealitas
Guru besar Fikom Unisba Septiawan Santana menyebut, permainan koin Jagad yang menuai kontroversi merupakan fenomena terjadinya hiperealitas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Guru besar Fikom Unisba Septiawan Santana menyebut, permainan koin Jagad yang menuai kontroversi merupakan fenomena terjadinya hiperealitas.
Apabila sebelumnya telah ada pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol), dituturkan ia kini ruang fantasi 'masyakarat maya' diisi oleh game pada aplikasi koin Jagad.
‘’Motifnya bukan uang, tapi keasyikan. Fenomena ini merupakan bukti bahwa dunia maya sudah dijadilam srbagai dunia realitas oleh sebagian masyarakat," kata Septian Santana, Rabu 15 Januari 2025.
Dikemukakan ia, sebagian besar masyarakat yang larut dalam permainan itu. Dari perspektif komunikasi, merupakan kelompok yang mengalami kejenuhan dalam hidupnya.
Pihaknya menjelaskan, akibat pengaruh dunia maya yang dianggap sebagai dunia nyata berdampak pada perusakan tatanan kota. Hal itu membutakan sebagian peserta permainan koin Jagad.
"Apabila melihat kondisi ini, tentu menjadi prihatin dengan pengaruh dunia maya yang sampai membutakan sebagian peserta permainan Koin Jagat, sehingga peraturan nyata tidak lagi diindahkan," ucapnya.
Setiawan mengatakan, teknologi komunikasi seharusnya disikapi hanya sebagai alat bantu. Bukan lantas menjadi kehidupannya dan apabila kondisi ini dibiarkan. Maka akan memicu kerusakan-kerusakan lainnya.
‘’Saat ini yang rusak baru taman kota. Ke depannya jika tidak diatur, akan menimbulkan kerusakan lain,’’ ujar dia.
Ia menjelaskan, hiperealitas merupakan sebuah keadaan dimana individu tidak bisa membedakan antara kenyataan dengan fantasi virtual. Hiperealitas, juga akan memicu runtuhnya realitas karena telah dikuasai oleh rekayasa virtual yang dianggap lebih nyata.
Masyarakat yang masuk dalam jebakan hiperealitas, menurutnya tidak sadar akan perbedaan antara dunia nyata dan maya. Pihaknya pun mengimbau pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengatur keadaan ini.
‘’Teknologi komunikasi harus tetap diposisikan sebagai alat bantu. Jangan lantas dijadikan kehidupan sebenarnya,’’ tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

