Guru Besar IPB University Tekankan Pendekatan One Health untuk Pengendalian Cacing Parasit Zoonotik Hewan Peliharaan
Guru Besar Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Yusuf Ridwan membeberkan cara pengendalian cacing parasit zoonotik pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Hal utama yang harus dilakukan yakni penerapan pendekatan One Health secara sistematis memperkuat upaya pencegahan zoonosis atau penularan penyakit hewan ke manusia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Guru Besar Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Yusuf Ridwan membeberkan cara pengendalian cacing parasit zoonotik pada hewan peliharaan seperti anjing dan kucing. Hal utama yang harus dilakukan yakni penerapan pendekatan One Health secara sistematis memperkuat upaya pencegahan zoonosis atau penularan penyakit hewan ke manusia.
Yusuf menuturkan, keberadaan hewan kesayangan memberikan berbagai manfaat psikologis, sosial dan emosional, tapi terdapat pula risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama terkait penularan penyakit zoonotik, termasuk infeksi cacing parasit.
"Infeksi cacing parasit zoonotik merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, khususnya di daerah dengan tingkat interaksi yang tinggi antara manusia dan hewan. Anjing dan kucing peliharaan dapat berperan sebagai induk semang (host) dari berbagai cacing parasit zoonotik seperti Toxocara spp dan Ancylostoma spp," ungkap Yusuf kepada wartawan pada Kamis 22 Mei 2025.
Yusuf melanjutkan, hewan yang terinfeksi akan mengeluarkan telur cacing melalui feses ke lingkungan, yang kemudian menjadi sumber infeksi bagi hewan lain maupun manusia. Infeksi ini berdampak tidak hanya pada kesehatan hewan, tetapi juga pada manusia, dengan manifestasi klinis seperti visceral larva migrans, ocular larva migrans, neurotoxocarosis dan covert toxocarosis oleh Toxocara spp., serta cutaneous larva migrans akibat infeksi Ancylostoma spp.
"Kejadian toxocarosis dan ancylostomosis baik pada hewan maupun manusia masih terus dilaporkan dengan tingkat prevalensi yang bervariasi, dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko seperti kebersihan lingkungan, perilaku pemeliharaan hewan dan kesadaran masyarakat," tuturnya
Yusuf memaparkan, saat ini, pengendalian infeksi terutama mengandalkan pemberian anthelmintik secara rutin pada hewan kesayangan. Namun, pendekatan ini masih memiliki keterbatasan dalam mencegah reinfeksi, terutama bila tidak diimbangi dengan intervensi lingkungan dan perubahan perilaku pemilik hewan.
"Siklus hidup cacing parasit melibatkan fase hidup bebas di lingkungan serta transmisi silang antara hewan dan manusia. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam pengendalian infeksi cacing parasit zoonotik. Pendekatan One Health merupakan kerangka kerja yang relevan untuk menjawab tantangan tersebut. Pendekatan ini mencakup kolaborasi lintas sektor antara tenaga kesehatan hewan, kesehatan masyarakat dan pihak terkait lainnya dalam kerangka konsep One Health," paparnya.
Yusuf menjelaskan, One Health adalah pendekatan terpadu yang mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan dan lingkungan saling berhubungan secara erat. Dalam konteks pengendalian cacing parasit zoonotik pada hewan kesayangan, pendekatan ini melibatkan kolaborasi antar berbagai sektor seperti kedokteran hewan, kedokteran manusia, kesehatan masyarakat dan ilmu lingkungan.
"Melalui kerjasama multisektoral, surveilans terpadu, edukasi dan pemberdayaan masyarakat, pengendalian yang terintegrasi dan dukungan riset inovatif, pengendalian cacing parasit zoonotik dapat dilakukan secara efektif dan berkelanjutan. Implemensi pendekatan One Health dalam pengendalian cacing parasit dapat mencakup edukasi kepada pemilik hewan dan masyarakat umum. Kemudian meningkatkan kesadaran serta peran serta masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian penyakit," jelasnya.
Yusuf membeberkan, edukasi mengenai risiko infeksi dan pengendalian cacing zoootik, perilaku higiene dan sanitasi dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Dengan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat dan mendorong keterlibatan aktif dalam pengendalian parasit zoonotik, pendekatan One Health dapat diimplementasikan secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan di tingkat masyarakat.
"Masyarakat dapat menerapkan praktik pengendalian cacing parasit zoonotik secara sinergis melalui penggunaan anthelmintik yang tepat dan berkala, manajemen pemeliharaan hewan, penerapan perilaku higiene, pengelolaan lingkungan serta pengendalian populasi hewan liar. Selain edukasi, surveilans parasit pada populasi hewan peliharaan dan manusia, pemantauan resistansi terhadap anthelmintik juga integrasi data kesehatan hewan dan manusia menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian cacing parasit zoonotik," bebernya.
Ia menegaskan, pendekatan ini memungkinkan terjadinya respons yang lebih efektif dan efisien terhadap ancaman kesehatan yang bersifat lintas spesies. Dengan demikian, pengendalian cacing parasit zoonotik pada hewan kesayangan tidak hanya bergantung pada tindakan individual seperti pemberian obat cacing, tetapi harus menjadi bagian dari strategi kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu dan sektor.
"Di sisi lain, pengembangan inovasi dalam bidang diagnostik, identifikasi molekuler, serta alternatif pengobatan anthelmintik merupakan arah penelitian yang perlu dikembangkan guna mendukung program pengendalian yang lebih efektif di masa depan. Penerapan pendekatan One Health secara sistematis diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan zoonosis dan meningkatkan kualitas hidup manusia dan hewan secara berkelanjutan," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani
