IPB Kembangkan Bisnis Maggot Model Plasma-Inti, Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai

IPB University mengembangkan bisnis maggot model plasma-inti melalui Sinergi 2026 untuk mengolah sampah organik menjadi produk bernilai dan berkelanjutan.

IPB Kembangkan Bisnis Maggot Model Plasma-Inti, Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai
IPB University mengembangkan bisnis maggot model plasma-inti melalui Sinergi 2026 untuk mengolah sampah organik menjadi produk bernilai dan berkelanjutan. Foto ilustrasi

INILAHKORAN.IDsampah organik tak selalu berakhir sebagai limbah. Di tangan IPB University, sampah organik dikembangkan menjadi bagian dari model bisnis Maggot yang menghubungkan budi daya, pengolahan hingga pasar.

Melalui Center for Tropical Animal Studies (Centras)-Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan dan Halal (LRI PGKH), IPB University mengembangkan model bisnis Maggot dengan konsep plasma-inti dalam kerangka program Sinergi 2026.

Kepala Centras Nahrowi menjelaskan, konsep tersebut memungkinkan mitra sebagai plasma tidak perlu menjalankan seluruh tahapan budi daya Maggot, mulai dari menetaskan telur, membesarkan Maggot hingga menghasilkan telur kembali.

“Plasma dapat berfokus pada pembesaran Maggot, sementara tahapan lainnya dilakukan oleh pihak yang memiliki peran masing-masing,” kata Nahrowi seperti dikutip dari Antara, Minggu (20/9/2026).

Menurut Nahrowi, keberadaan off-taker atau pihak yang menyerap hasil produksi menjadi bagian penting dalam model bisnis tersebut. Dengan adanya kepastian pasar, mitra memiliki jalur yang lebih jelas untuk menyalurkan hasil produksinya.

bisnis Maggot Berbasis Ekonomi Sirkular

Program Sinergi diarahkan untuk mengembangkan model bisnis Maggot dengan pendekatan ekonomi sirkular, khususnya melalui pemanfaatan sampah organik menjadi produk yang bernilai dan bermanfaat.

Untuk mendukung program tersebut, IPB University telah melakukan sosialisasi model bisnis Maggot, penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS), sekaligus peminjaman mesin pengering Maggot.

Nahrowi menekankan bahwa hubungan dalam model plasma-inti membutuhkan kepercayaan antarpihak. Plasma harus percaya kepada inti, begitu pula sebaliknya.

Salah satu model pengembangan melibatkan lima plasma dengan kondisi berbeda, yakni mitra di Jakarta, Bintaro, Tenjolaya, IPB University dan Depok. Masing-masing memiliki potensi bahan baku serta kondisi pengelolaan yang berbeda.

Selain ketersediaan sampah organik, proses pengeringan menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan bisnis Maggot.

Pengeringan menggunakan sinar matahari membutuhkan waktu beberapa hari. Sementara itu, penggunaan mesin pengering berskala besar membutuhkan investasi yang cukup tinggi.

Karena itu, mesin pengering menjadi salah satu dukungan teknologi yang diberikan melalui program Sinergi 2026.

Melalui model plasma-inti tersebut, IPB University mendorong terbentuknya ekosistem bisnis Maggot yang menghubungkan pengelolaan sampah organik, produksi, pengolahan hingga pasar secara berkelanjutan.

“Model ini diharapkan dapat menjadi percontohan yang nantinya dikembangkan lebih luas,” sebut Prof Nahrowi.


Editor : Ahmad Sayuti