Hati-hati, Pertengahan 2026 Ini Jabar Hadapi Ancaman Hujan Lebat dan Kemarau Kering
Wilayah Jabar berpotensi menghadapi dua ancaman cuaca sekaligus pada pertengahan 2026 yang diprediksi masih ada hujan dalam musim kemarau kering.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wilayah Jabar berpotensi menghadapi dua ancaman cuaca sekaligus pada pertengahan 2026 yang diprediksi masuk masa peralihan musim kemarau kering.
Satu sisi, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih diprediksi mengguyur sejumlah daerah dalam beberapa hari ke depan. Sisi lain, pemerintahan daerah mulai bersiap menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.
Situasi tersebut mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana hidrometeorologi mulai dari banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
Plt BMKG Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Edi Wibowo mengatakan, potensi hujan masih cukup tinggi di sejumlah wilayah Jabar pada periode 1-7 Juni 2026. Kondisi itu dipengaruhi sejumlah faktor atmosfer yang masih aktif dan mendukung pembentukan awan hujan.
"Di antaranya aktifnya gelombang atmosfer tipe Kelvin pada awal pekan, suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, serta kelembaban udara pada lapisan 850mb sekitar 50-95 persen," kata Edi dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, kombinasi faktor tersebut berpeluang memicu hujan sedang hingga lebat yang dapat meningkatkan risiko terjadinya bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah.
Sebab itu, BMKG meminta masyarakat tidak lengah, meskipun sebagian wilayah telah memasuki masa peralihan menuju musim kemarau. Kewaspadaan perlu ditingkatkan mengingat perubahan cuaca dapat terjadi secara cepat dan sulit diprediksi.
"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti hujan lebat, angin kencang, banjir dan lain sebagainya," sambungnya.
BMKG juga mengingatkan pentingnya memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi, terutama bagi masyarakat yang memiliki agenda perjalanan antardaerah maupun antarprovinsi.
"Terutama bagi masyarakat yang akan melaksanakan perjalanan baik melalui darat, laut dan udara," ujarnya.
Di tengah masih tingginya peluang hujan, Pemprov Jabar memfokuskan perhatian pada ancaman kekeringan yang diperkirakan muncul saat musim kemarau mencapai puncaknya.
Gubernur Jabar Dedi Mulyadi mengungkapkan pihaknya telah merumuskan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kemarau, khususnya terkait ketersediaan air bersih bagi masyarakat di daerah rawan, usai menjalani rapat koordinasi di Jakarta tadi.
"Saya baru selesai rapat untuk menyelesaikan tantangan yang akan dihadapi di musim kemarau, tantangan pertama adalah kekurangan air bersih di beberapa wilayah yang rawan krisis air bersih," ucapnya.
Sebagai langkah awal, Pemprov Jabar akan mempercepat penyediaan fasilitas dan infrastruktur air bersih untuk menjamin kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi saat musim kemarau berlangsung.
"Maka kita melakukan tiga hal, yang pertama, menyiapkan sarana dan prasarana air bersih dalam waktu cepat," katanya.
Selain memperkuat infrastruktur, Pemprov Jabar juga akan menyiapkan dukungan transportasi, guna memperlancar distribusi air ke wilayah yang mengalami kesulitan pasokan.
"Dan yang kedua, dia juga akan menyiapkan sarana transportasi untuk mempermudah distribusi air bersih, termasuk untuk membangun mengangkut jaringan air bersih menuju lokasi rawan," imbuhnya.
Langkah berikutnya adalah memperluas jaringan distribusi air bersih secara permanen, apabila waktu pelaksanaannya memungkinkan sebelum puncak kemarau tiba.
"Dan yang ketiga adalah menyambungkan jaringan air bersih ke wilayah tersebut apabila waktunya masih mencukupi," katanya.
Berdasarkan proyeksi iklim nasional, musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal di sebagian wilayah Indonesia. Selain berlangsung lebih lama, karakter musim kemarau tahun ini juga diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologis tiga dekade terakhir.
Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena El Nino, yang berpotensi mengurangi curah hujan selama periode kemarau. Maka dari itu, upaya mitigasi sejak dini dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak kekeringan, terutama di wilayah yang selama ini rentan mengalami krisis air bersih.
Editor : Doni Ramdhani


