IHSG Anjlok hingga Kena Trading Halt usai MSCI Kaji Status Standalone Market RI
IHSG ambrol hingga 8,01 persen atau berkurang 469,86 poin ke level 5.393,92, yang memicu terjadinya penghentian sementara perdagangan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengalami penurunan drastis pada pembukaan perdagangan Jumat pagi, 16 Oktober 2026.
IHSG ambrol hingga 8,01 persen atau berkurang 469,86 poin ke level 5.393,92, yang memicu terjadinya penghentian sementara perdagangan (trading halt) oleh pihak bursa.
Tekanan berat ini turut menyeret Indeks LQ45 yang berisi kelompok saham unggulan, merosot 8,33 persen atau turun 49,14 poin ke posisi 540,95.
Ancaman Reklasifikasi MSCI Jadi Pemicu Utama
Pelemahan tajam IHSG dipicu oleh pengumuman resmi dari lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI menyatakan mulai membuka proses konsultasi kepada pelaku pasar untuk mengkaji ulang status pasar modal Indonesia.
MSCI mengusulkan untuk menurunkan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market (Pasar Berkembang) menjadi Standalone Market.
Langkah ini diambil MSCI setelah menangkap kekhawatiran para investor global terkait isu ketidaktransparanan struktur kepemilikan saham serta dugaan praktik coordinated trading di pasar modal domestik. Bahkan sejak Januari 2026, MSCI telah membekukan sebagian perubahan pada indeks saham Indonesia.
MSCI akan menampung masukan dari para pelaku pasar mengenai proposal reklasifikasi ini hingga 30 April 2027, sebelum mengumumkan keputusan resminya sebelum 30 Juni 2027. Rencana penurunan status ini dipastikan tetap berjalan kecuali jika terdapat bukti nyata perbaikan material dalam tata kelola serta fungsi pasar modal Indonesia.
Prospek Tekanan IHSG dan Imbauan Analis
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menjelaskan bahwa jika level support 5.828 tertembus, tekanan koreksi IHSG berpotensi berlanjut untuk menutup celah (gap) di area 5.805–5.744 dan 5.704–5.695.
"Level 5.700 menjadi support psikologis berikutnya. Jika level tersebut turut jebol, IHSG berisiko melemah lebih dalam menuju 5.300 yang merupakan area previous low," ungkap Liza dalam kajian tertulisnya.
Liza menambahkan, jika reklasifikasi menjadi Standalone Market benar-benar terealisasi, Indonesia berisiko menghadapi gelombang arus keluar dana asing (capital outflow), tekanan jual saham yang intensif, serta peningkatan volatilitas pasar secara keseluruhan.
Sorotan pada Penegakan Hukum dan Reformasi Pasar
Sejauh ini, otoritas pasar modal Indonesia sebenarnya telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi. Kebijakan tersebut mencakup keterbukaan kepemilikan saham di atas 1 persen, pengelompokan klasifikasi investor secara lebih rinci, pelaporan High Shareholding Concentration (HSC), serta penyusunan peta jalan untuk meningkatkan batas minimum free float menjadi 15 persen.
Namun demikian, mayoritas pelaku pasar menilai bahwa penataan tersebut masih belum diimbangi dengan konsistensi implementasi dan penegakan hukum yang signifikan di lapangan, sehingga memicu reaksi negatif dari investor global.
Editor : Firda Rachmawati
