Insiden PS Putra Jaya Kembali Ingatkan Tragedi Fatal Sepak Bola Indonesia
Beberapa tragedi sepak bola seperti yang dilakukan PS Putra Jaya pernah terjadi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Insiden pelanggaran keras yang terjadi dalam laga Liga 4 Jawa Timur antara PS Putra Jaya Sumurwaru dan Perseta 1970 kembali membuka luka lama sepak bola Indonesia. Peristiwa tersebut mengingatkan publik pada sejumlah tragedi fatal di lapangan hijau yang pernah merenggut nyawa pemain akibat benturan keras.
Dalam laga Liga 4 Jatim babak 32 besar yang digelar di Stadion Bangkalan, Madura, seorang pemain Perseta 1970 mengalami cedera setelah insiden keras dengan pemain PS Putra Jaya.
Kasus ini menjadi perhatian luas setelah manajemen PS Putra Jaya mengambil langkah tegas dengan memberhentikan pemain yang terlibat dan menyampaikan permohonan maaf secara resmi.
Meski korban dalam insiden terbaru ini dilaporkan selamat, kejadian tersebut mengingatkan publik pada tragedi-tragedi sepak bola nasional yang berujung kematian akibat benturan di lapangan.
1. Taufik Ramsyah – Kiper Tornado FC Meninggal Setelah Cedera Kepala
Salah satu kasus yang paling dikenang adalah Taufik Ramsyah, kiper Tornado FC, yang meninggal dunia pada 2021 setelah mengalami benturan keras di kepala saat pertandingan Liga 3. Cedera kepala serius tersebut akhirnya merenggut nyawanya meski sempat mendapat perawatan medis.
2. Jumadi Abdi – Gelandang PKT Bontang Meninggal Karena Luka Dalam Akibat Benturan
Tragedi serupa juga dialami Jumadi Abdi, gelandang PKT Bontang, yang meninggal pada 2009 usai menerima benturan keras di bagian perut dalam laga resmi. Luka dalam yang dialaminya berkembang menjadi infeksi berat pada organ vital hingga menyebabkan kematian.
3. Akli Fairuz – Striker Persiraja Banda Aceh Meninggal Setelah Disentuh Kiper Lawan
Kasus lain yang hingga kini masih membekas adalah tragedi Akli Fairuz, striker Persiraja Banda Aceh, yang wafat pada 2014. Akli mengalami cedera internal serius setelah bagian perutnya terkena terjangan kiper PSAP Sigli. Meski insiden tersebut sekilas tampak tidak terlalu keras, dampaknya berujung fatal beberapa hari kemudian.
Rangkaian tragedi ini menunjukkan bahwa benturan di sepak bola, sekecil apa pun terlihatnya, berpotensi membawa konsekuensi serius bahkan mematikan jika menyentuh area vital tubuh pemain.
Langkah tegas yang diambil manajemen PS Putra Jaya diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab moral klub. Namun, pengamat menilai upaya pencegahan harus dilakukan lebih jauh melalui edukasi pemain, pengawasan wasit, serta penerapan sanksi yang konsisten agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Editor : Firda Rachmawati
