Investigasi Dugaan Keracunan Pasirkaliki Terkendala, RestoTak Punya Sampel Makanan

Dinkes Kota Bandung menghadapi kendala, dalam investigasi dugaan keracunan makanan di sebuah restoran di Jalan Pasirkaliki.

Investigasi Dugaan Keracunan Pasirkaliki Terkendala, RestoTak Punya Sampel Makanan
Dewi Primasari menjelaskan temuan Dinkes dalam pemeriksaan higiene dan sanitasi restoran.

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung menghadapi kendala, dalam investigasi dugaan keracunan makanan di sebuah restoran di Jalan Pasirkaliki. Restoran itu diketahui tidak menyimpan sampel makanan, padahal sampel dibutuhkan dalam pemeriksaan lebih lanjut.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Bandung, Dewi Primasari mengatakan, tim telah melakukan investigasi langsung ke restoran dan konsumen yang melaporkan gangguan kesehatan.

“Kita melakukan investigasi langsung ke lapangan, ke pengelola resto, kemudian ke konsumen yang melaporkan. Kita cek sejauh mana kondisinya sekarang, dan disarankan berobat,” kata Dewi Primasari, Rabu (7/10/2026).

Menurutnya, ketiadaan sampel makanan membuat pemeriksaan lanjutan belum dapat dilakukan secara optimal. Sampel makanan, dinilai penting dalam proses penelusuran dugaan penyebab gangguan kesehatan yang dialami konsumen.

“Idealnya itu seharusnya ada pemeriksaan sampel. Tetapi ternyata restoran ini tidak menyimpan sampel. Jadi tadi masih sebatas edukasi,” ucapnya.

Pihaknya juga melakukan inspeksi kesehatan lingkungan di restoran. Tim kesehatan lingkungan bersama tim reaksi cepat memeriksa penataan lokasi, peralatan, bahan makanan hingga penerapan prosedur operasional standar atau SOP.

“Secara umum dari pemeriksaan awal, memang masih ada beberapa hal terkait higiene dan sanitasi yang perlu diperbaiki lagi oleh pihak restoran,” ujar dia.

Salah satu catatan berkaitan dengan penataan bahan makanan. Dinkes menemukan perlunya pemisahan bahan makanan segar dan kering, dengan bahan kimia seperti cairan pembersih serta sabun pencuci piring.

“Masih perlu diperbaiki pemisahan-pemisahannya. Kemudian karena lokasinya tidak begitu luas, perlu penataan ulang,” jelasnya.

Penerapan sistem first in first out atau FIFO, dan first expired first out atau FEFO dalam penyimpanan bahan makanan juga menjadi perhatian. Menurut Dewi, penerapan SOP itu belum terlihat secara jelas saat pemeriksaan.

Selain sarana, perilaku penjamah makanan turut mendapat sorotan. Dinkes meminta pekerja memperhatikan perlindungan diri saat mengolah maupun menyajikan makanan, termasuk penggunaan masker dan penutup rambut.

“Dari faktor perilaku, penjamah makanan juga perlu diperbaiki. Pelindung dirinya, masker kemudian yang tidak berkerudung atau laki-laki menggunakan hair net,” tutur dia.

Di sisi lain, pihaknya mencatat 24 laporan warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran itu. Data itu dihimpun melalui berbagai jalur pelaporan, termasuk puskesmas dan kanal media sosial Dinkes.

“Kami juga masih update terus. Sampai tadi sore yang sudah terlaporkan kepada kami melalui berbagai jalur itu 24 kasus,” ucapnya.

Dia menyebut, waktu munculnya gejala bervariasi. Laporan tercepat, menunjukkan gejala muncul sekitar dua jam setelah mengonsumsi makanan. Sedangkan laporan paling lambat muncul sekitar 12 jam kemudian.

Keluhan yang dilaporkan antara lain sakit perut, mual, muntah dan buang air besar cair atau diare. Pihaknya masih melakukan konfirmasi terhadap laporan, dan memantau kondisi warga yang mengalami gejala.

Dewi menyampaikan, pengawasan terhadap restoran akan dilakukan lebih intensif setelah munculnya dugaan kasus keracunan. Pemantauan juga melibatkan puskesmas di wilayah terkait.

Pihaknya juga masih membuka jalur pelaporan, bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari restoran itu. Masyarakat diminta segera melapor ke puskesmas terdekat, atau kanal resmi Dinkes agar bisa ditindaklanjuti dalam proses investigasi.

“Biasanya kalau ada kasus seperti ini, kita agak lebih intensif pemantauannya,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti