Isye Tetap Tegar Walaupun Terkena HIV

Isye Susilawati. Wanita 40 tahun ini ingin memberikan pesan positif kepada perempuan di Tanah Air yang mengidap HIV. Isye menjadi salah satu tim nasional yang berlaga di Homeless World Cup 2019, turnamen sepak bola jalanan bagi tunawisma dan kelompok marjinal.

Isye Tetap Tegar Walaupun Terkena HIV
Foto: Net

INILAH, Bandung - Isye Susilawati. Wanita 40 tahun ini ingin memberikan pesan positif kepada perempuan di Tanah Air yang mengidap HIV. Isye menjadi salah satu tim nasional yang berlaga di Homeless World Cup 2019, turnamen sepak bola jalanan bagi tunawisma dan kelompok marjinal.

Pada 2015 lalu, Isye terkena HIV. Pemain perempuan di tim yang bakal berangkat ke Cardiff City, Wales, ini ingin memperlihatkan kepada perempuan dengan HIV positif, bahwa mereka bisa melakukan apapun.

Awalnya Isye sangat minder terkena HIV. Namun rasa itu perlahan menghilang mengingat bersedih pun tak bakal merubah status penyakit yang dia idap. 

“Justru malah timbul rasa positif untuk memulai perjuangan saya sebagai perempuan,” ucap Isye kepada INILAH, belum lama ini.

Anak terbesarnya sangat mendukung apa yang dilakukan ibundanya tersebut. Tak ayal, anak tertuanya kerap mengingatkan Isye untuk melakukan kontrol ke rumah sakit tiap bulannya. 

Keterbukaan Isye tak begitu saja terjadi. Sang anak baru berani berkomunikasi dengan ibunya saat duduk di bangku SMP. Anaknya sempat menentang ibunya memilih bermain sepak bola dibanding olahraga lain. Namun lama kelamaan, anaknya yang saat ini telah duduk di bangku kuliah bisa mengerti hal tersebut. 

“Saat SMP baru mulai komunikasi dan mulai membuka diri kalau ibunya kondisinya begini, dan dia menerima,” jelasnya. 

Menjadi satu-satunya personel perempuan di tim yang mayoritas berisikan laki-laki, Isye tak merasa canggung. Pasalnya, sosok yang berposisi sebagai penyerang ini telah mengenal sebagian rekan timnya tersebut. Bahkan, dirinya mengklaim, jika kekompakan telah terbentuk di tim yang bakal berangkat ke negara Gareth Bale itu. 

“Karena sudah terbiasa bergaul di Rumah Cemara, jadi tidak menjadi perbedaan yang luar biasa buat kita. Kekompakan juga sudah terjadi di tim kita, karena kita tidak melihat latar belakang dari masing-masing pemain,” urainya. 

Disinggung apakah ada keistimewaan dari tim pelatih pada khususnya, mengingat sosoknya sebagai perempuan. Isye menekankan, bahwa dia tetap melahap menu latihan yang diberikan oleh sang pelatih. Malahan, ungkap dia, Albert Rudiana sebagai pelatih sering meminta dirinya untuk beristirahat dahulu. 

"Kepada perempuan Indonesia yang mengidap HIV untuk terus maju dan melakukan hal positif, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Jangan menyerah, tetap kuat, jangan sampai dipandang sebelah mata,” imbuhnya. (Okky Adiana)


Editor : DeryFG