Jadi Pertama di Jabar yang Mampu Mengolah Sampah Menjadi RDF, TPST Santiong Disebut Ngatiyana Punya Peran ini

Keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong dan TPST Lebaksaat disebut-sebut memiliki peranan penting dalam pengelolaan sampah di Kota Cimahi.

Jadi Pertama di Jabar yang Mampu Mengolah Sampah Menjadi RDF, TPST Santiong Disebut Ngatiyana Punya Peran ini
Keberadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong dan TPST Lebaksaat disebut-sebut memiliki peranan penting dalam pengelolaan sampah di Kota Cimahi.

INILAHKORAN, Cimahi - Keberadaan Tempat pengolahan sampah Terpadu (TPST) Santiong dan TPST Lebaksaat disebut-sebut memiliki peranan penting dalam pengelolaan sampah di Kota Cimahi.

Pasalnya, keberadaan TPST Santiong yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum itu menjadi yang pertama di Jawa Barat yang mampu mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF), sejalan dengan target Cimahi Zero to TPA.

"Fasilitas TPST Santiong dan TPST Lebaksaat itu tidak hanya berperan penting dalam pengelolaan sampah, tetapi juga mendukung percepatan pengendalian pencemaran serta kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum dengan pendanaan dari Bank Dunia," kata Wali Kota Cimahi, Ngatiyana belum lama ini.

Menurutnya, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Cimahi. Bahkan, saat ini, Cimahi masih bergantung pada TPPAS Sarimukti yang berjarak lebih dari 40 kilometer dengan kuota pembuangan harian yang terbatas. 

"Seiring meningkatnya timbunan sampah akibat pertumbuhan penduduk, kapasitas Sarimukti yang sudah overload semakin menegaskan pentingnya solusi pengolahan berbasis teknologi," tuturmya.

Untuk pendampingan operasional TPST Santiong dan Lebaksaat itu, ungkap Ngatiyana, telah dilakukan oleh PT Unisystem di bawah tanggung jawab Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Barat sejak September 2024 hingga Juli 2025. 

"Setelah memastikan seluruh peralatan, sistem, dan sarana pendukung berfungsi sesuai standar, Pemerintah Kota Cimahi menyatakan siap menerima dan mengoptimalkan pemanfaatan kedua fasilitas tersebut," ujarnya.

Pihaknya berharap, target pengolahan 50 ton sampah per hari pun dapat segera terwujud. Sebab, penanganan sampah merupakan salah satu program prioritas pembangunan daerah. 

Kendati demikian, dirinya juga mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur persampahan saja tidak cukup tanpa adanya komitmen.

"Dibutuhkan juga konsistensi, dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan," tandasnya. *** 


Editor : JakaPermana