Program ISWMP, Cimahi Siapkan TPST Santiong Olah 80 Ton Sampah per Hari

Cimahi memperbarui sistem pengelolaan sampah melalui program ISWMP yang didukung Bank Dunia dan pemerintah pusat. TPST Santiong ditargetkan mengolah 75–80 ton

Program ISWMP, Cimahi Siapkan TPST Santiong Olah 80 Ton Sampah per Hari
Cimahi memperbarui sistem pengelolaan sampah melalui program ISWMP yang didukung Bank Dunia dan pemerintah pusat. TPST Santiong ditargetkan mengolah 75–80 ton

INILAHKORAN.ID– Kota Cimahi mendapatkan dukungan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sampah melalui Program Integrated Solid Waste Management Improvement Project (ISWMP) yang didukung World Bank atau Bank Dunia serta pemerintah pusat.

Program ini diharapkan menjadi solusi bagi Cimahi yang menghadapi tantangan pengelolaan sampah akibat keterbatasan lahan dan kepadatan penduduk.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan pembaruan fasilitas akan dilakukan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Santiong. Fasilitas tersebut akan dilengkapi teknologi baru dengan kapasitas pengolahan sekitar 75 hingga 80 ton sampah per hari.

Selain itu, TPST Lebak Saat juga akan mendapatkan mesin baru yang dijadwalkan mulai beroperasi pada awal tahun depan.

“Yang tak kalah menarik, mesin lama dari TPST Santiong tidak akan dibuang begitu saja. Pemerintah Kota Cimahi berencana memindahkannya ke wilayah Cigugur untuk mendukung pengembangan fasilitas pengolahan sampah baru,” kata Ngatiyana, Jumat (23/10/2026).

Kurangi Ketergantungan pada TPA Sarimukti

Ngatiyana menjelaskan, Cimahi ditetapkan sebagai kota percontohan pengelolaan sampah nasional. Melalui pembaruan fasilitas dan sistem pengelolaan, pemerintah kota berharap ketergantungan terhadap pengiriman sampah ke TPA Sarimukti dapat dikurangi.

Menurutnya, pengiriman sampah ke tempat pemrosesan akhir selama ini turut membebani biaya operasional. Karena itu, penanganan sampah perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilahan di tingkat rumah tangga hingga pengolahan di fasilitas yang lokasinya lebih dekat dengan sumber sampah.

“Selama ini persoalan sampah menjadi tantangan tersendiri bagi Cimahi sebagai kota dengan wilayah terbatas dan jumlah penduduk yang padat,” jelasnya.

“Ketergantungan pada pembuangan sampah ke TPA dinilai membutuhkan biaya besar dan tidak bisa terus menjadi satu-satunya solusi,” ungkapnya.

Dorong Pengolahan Sampah Dekat Sumber

Lebih lanjut, Ngatiyana menyebut perubahan pola pikir menjadi salah satu kunci dalam pembenahan sistem pengelolaan sampah di Cimahi. Penanganan sampah tidak lagi hanya berfokus pada pengangkutan dan pembuangan, tetapi juga pada pemilahan serta pengolahan sedekat mungkin dengan sumbernya.

Ia menilai, apabila seluruh tahapan program berjalan sesuai rencana, Cimahi berpeluang menjadi model pengelolaan sampah bagi kota lain yang menghadapi persoalan serupa.

“Cimahi menatap babak baru pengelolaan sampah, bukan sekadar mengangkut dan membuang, tetapi mengolah sampah sedekat mungkin dengan sumbernya,” pungkasnya.***


Editor : JakaPermana