Residu Sampah Masih Jadi PR, Cimahi Butuh Lima Unit Kompaktor

Pemkot Cimahi membutuhkan lima unit kompaktor untuk mengangkut residu sampah. Pemilahan dari rumah dan kepastian pemanfaatan hasil olahan juga menjadi perhatian

Residu Sampah Masih Jadi PR, Cimahi Butuh Lima Unit Kompaktor
Pemkot Cimahi membutuhkan lima unit kompaktor untuk mengangkut residu sampah. Pemilahan dari rumah dan kepastian pemanfaatan hasil olahan juga menjadi perhatian

INILAHKORAN.ID – Penanganan residu atau sisa pengolahan sampah masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi. Untuk mendukung pengangkutan residu yang tidak dapat diolah di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), setidaknya dibutuhkan lima unit kompaktor.

Selain dukungan sarana pengangkutan, hasil pengolahan sampah di TPST juga harus memenuhi standar mutu yang jelas dan memiliki kepastian pemanfaatan melalui kerja sama dengan pihak pembeli atau off-taker.

Dengan demikian, proses pengolahan sampah tidak boleh berhenti pada tahap produksi. Pemkot Cimahi perlu memastikan hasil olahan memiliki jalur pemanfaatan yang jelas sehingga dapat digunakan kembali, sementara residu yang tersisa bisa ditangani secara terukur.

Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengatakan, pembenahan pengelolaan sampah harus dimulai dari hulu, yakni pemilahan sampah sejak dari sumber atau rumah tangga. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi beban TPST sekaligus meningkatkan kualitas hasil pengolahan.

"Oleh karena itu, sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah yang sudah terpilah harus berjalan konsisten di seluruh kelurahan, bukan hanya di titik-titik tertentu saja," kata Ngatiyana, Sabtu (24/10/2026).

Ngatiyana mengakui, penyusunan rencana teknis pengelolaan sampah masih membutuhkan penyempurnaan dan validasi data yang lebih akurat. Salah satu hal yang perlu dibenahi adalah menyamakan pemahaman antara pihak kelurahan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengenai peran Lembaga Pengelola Sampah (LPS).

"Termasuk bagaimana lembaga ini terintegrasi ke dalam sistem pelayanan persampahan secara keseluruhan di tingkat kota," ujarnya.

Pemkot Cimahi Bentuk Tim Pengelola Sampah di Kelurahan

Untuk memperkuat pelayanan di tingkat terdepan, Pemkot Cimahi kini membentuk tim pengelola sampah di tingkat kelurahan. Tim ini bertugas memperbarui data secara berkala, memastikan pelayanan pengangkutan berjalan baik, serta menjembatani arus informasi antara warga dan sistem pengelolaan sampah di tingkat kota.

Pemkot Cimahi juga mengandalkan program unggulan Sabu Jagat atau Sapu Bersih Jagat. Melalui program tersebut, sebanyak 1.728 aparatur sipil negara (ASN) dikerahkan untuk turun langsung ke masyarakat.

Ngatiyana menyebut, pendekatan yang digunakan tidak sebatas sosialisasi, tetapi juga mencakup pendataan dan edukasi dari rumah ke rumah dengan metode by name by address. Melalui cara tersebut, setiap warga diharapkan memahami pentingnya memilah sampah sejak awal.

"Penanganan sampah ini diharapkan menjadi pilot project untuk kota kecil yang berhasil dalam pengelolaan sampahnya," ujarnya.

Proyek Pengelolaan Sampah Diminta Tuntas

Ngatiyana berharap dukungan pemerintah pusat dan pihak pendukung lainnya terhadap proyek pengelolaan sampah di Cimahi dapat terus berlanjut hingga tuntas.

Ia juga meminta Kepala Dinas Lingkungan Hidup memastikan proyek tersebut diselesaikan sepenuhnya sebelum memasuki masa pensiun.

"Dengan demikian manfaatnya dapat langsung dirasakan warga Kota Cimahi tanpa jeda," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana