Jaga Anak Putus Kekerasan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cimahi - Tidak semua luka terlihat. Sebagian justru tumbuh diam-diam, tersimpan dalam perubahan perilaku, hilangnya kepercayaan diri, atau ketakutan yang sulit diceritakan.
Di Jawa Barat, kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi catatan panjang yang belum selesai. Di Kota Bandung, tercatat 269 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2025. Kekerasan seksual menjadi bentuk pelanggaran yang paling banyak terjadi.
Pada periode yang sama, kekerasan terhadap perempuan tercatat sebanyak 241 kasus. Kekerasan fisik menjadi kasus yang paling dominan, disusul kekerasan seksual.
Pola serupa terlihat di Kota Cimahi. Hingga September 2026, kekerasan seksual menjadi kasus terbanyak yang ditangani Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) DP3P2KB Kota Cimahi. Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan menjadi korban.
Namun, di balik setiap angka terdapat seseorang yang harus kembali belajar merasa aman. Kepala Bidang UPT PPA DP3P2KB Kota Cimahi, Nia Kurnia, mengatakan penanganan kasus tidak boleh berhenti pada urusan administrasi. Keselamatan korban menjadi prinsip utama dalam setiap langkah pendampingan.
"Yang penting bukan hanya mengurus kasusnya, tetapi memastikan anak tidak kembali berada di situasi yang membahayakan," kata Nia, Rabu (7/10).
Karena itu, proses penanganan dimulai sejak laporan diterima. Petugas melakukan asesmen untuk mengetahui kondisi fisik dan psikologis korban, mengidentifikasi bentuk kekerasan yang dialami, sekaligus melihat lingkungan tempat korban tinggal.
Langkah tersebut penting karena bahaya tidak selalu berakhir setelah kasus dilaporkan. Asesmen dilakukan untuk memastikan apakah korban masih berada dalam lingkungan yang berisiko. Jika ditemukan indikasi ancaman berulang, korban dapat segera diamankan dan ditempatkan di tempat yang lebih aman.
"Jika ditemukan indikasi bahaya berulang, korban akan segera diamankan dan ditempatkan di tempat yang lebih aman," ujarnya.
(agus satia negara/gin)
Editor : Inilahkoran

