Jennie BLACKPINK dan Seulgi Red Velvet Minta Maaf, Mengapa Reaksi Publik Berbeda??

Reaksi publik berbeda pada cara Jennie BLACKPINK dan Seulgi Red Velvet minta maaf yang melalui agensi dan secara pribadi.

Jennie BLACKPINK dan Seulgi Red Velvet Minta Maaf, Mengapa Reaksi Publik Berbeda??
Jennie BLACKPINK dan Seulgi Red Velvet yang terlibat kontroversi penyalahgunaan kekuasaan.

inilahkoran - Baru-baru ini ada beberapa idola K-Pop yang terlibat Kontroversi Penyalahgunaan kekuasaan termasuk Jennie BLACKPINK dan Seulgi Red Velvet.

Di mana Jennie BLACKPINK ketahuan Merokok di dalam ruangan dan meniupkan Asap ke wajah staf.

Sementara Seulgi Red Vekvet bertukar Sepatu hak tinggi dengan Sepatu kest milik manajernya yang harus membawa banyak barang.

Seulgi Red Vekvet kemudian langsung mengunggah permintaan maaf setelah Kontroversi atas perilakunya yang menyalahgunakan kekuasaan terhadap seorang manajer mencuat. 

Idola wanita itu mengakui keputusannya yang ceroboh dan menjelaskan, “baru-baru ini, kaki saya melepuh dan terluka saat berlatih."

"Saya ceroboh karena tidak membawa Sepatu kets cadangan, karena mengira Sepatu hak yang saya kenakan ke bandara tidak terlalu tinggi,” jelas Seulgi Red Velvet.

Dia kemudian melanjutkan, “saat saya mulai mendapat bekas luka dan tidak bisa berjalan dengan baik, manajer saya menyarankan agar kami menukar Sepatu kami dengan mempertimbangkan konser yang akan datang.”

Seraya menambahkan bahwa dia sudah meminta maaf kepada manajer tersebut secara langsung.

Sebelumnya Seulgi dan member Red Velvet berangkat ke Kaohsiung untuk menghadiri 'K-MEGA CONCERT IN KAOHSIUNG'.

Seulgi Red Velvet mengenakan Sepatu hak tinggi saat tiba di bandara Incheon, tetapi dia terlihat mengenakan Sepatu kets saat tiba di Bandara Kaohsiung.

Kontroversi muncul karena seorang manajer mengenakan Sepatu hak tinggi milik Seulgi Red Velvet sambil menenteng tas besar di bahunya.

Setelah Seulgi Red Velvet meminta maaf, Kontroversi pun berakhir karena Publik akhirnya memahami situasinya.

Bahkan banyak yang memuji sang idola wanita karena menulis permintaan maafnya sendiri, bukan melalui agensinya.

Yang terpenting, Seulgi Red Velvet mengakui kesalahannya dan menjelaskan situasinya secara rinci.

Seulgi Red Velvet dikenal sebagai idola dengan kepribadian yang baik, jadi saat dia meminta maaf, semua orang lebih mudah bersimpati padanya.

Di sisi lain, Reaksi dalam kasus Jennie BLACKPINK yang Merokok sangat berbeda.

Jennie BLACKPINK menghadapi kritik pedas setelah dia tertangkap Merokok di dalam ruangan dalam sebuah video Vlog yang dirilis pada tanggal 2 Juli 2024.

Secara khusus, rapper BLACKPINK tersebut tidak hanya melakukan Merokok vaping di dalam ruangan tetapi juga mengembuskan Asap rokok di depan wajah staf tata riasnya.

Karena itu, banyak orang mengungkapkan rasa frustrasi atas perilaku kasar Jennie BLACKPINK, yang menimbulkan Kontroversi Penyalahgunaan kekuasaan.

Pada akhirnya, Jennie BLACKPINK pun meminta maaf melalui Agensi pribadinya OA atau ODDATELIER.

“Kami dengan tulus meminta maaf kepada semua orang yang merasa tidak nyaman dengan tindakan Jennie," ungkap Agensi.

"Jennie mengakui dan sangat menyesali kesalahannya karena melakukan vaping di dalam ruangan dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi staf," jelasnya.

"Dia secara pribadi telah meminta maaf kepada semua staf di lokasi yang mungkin telah terpengaruh," tambah Agensi.

Bahkan setelah Jennie BLACKPINK meminta maaf, Kontroversi terus berlanjut.

Banyak orang bahkan percaya bahwa ini adalah krisis terbesar dalam karier Jennie BLACKPINK sejak debutnya.

Tidak hanya Kontroversi masa lalunya yang diperiksa ulang, tetapi postingan yang membela Jennie BLACKPINK juga ditemukan ditulis oleh seorang penggemar yang menyamar sebagai staf Jennie.

Dibandingkan dengan Seulgi Red Velvet, Jennie BLACKPINK hanya menghadapi ulasan negatif.

Selain itu, kritik atas sikap Jennie BLACKPINK semakin meningkat karena penyanyi wanita itu tidak meminta maaf secara langsung atau menjelaskan situasinya. 

Baik Jennie BLACKPINK maupun Seulgi Red Velvet menghadapi Kontroversi Penyalahgunaan kekuasaan pada saat yang sama tetapi mereka menerima tanggapan Publik yang berbeda berdasarkan reputasi dan cara mereka meminta maaf.***


Editor : Irma Nurfajri