Jurang Nyata Lulusan Muda
SELALU ada satu pertanyaan yang hinggap di benak para lulusan muda: Apakah ilmu di bangku kuliah cukup untuk menjawab tantangan industri?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan bahwa jurang kesenjangan antara keterampilan lulusan dan kebutuhan dunia kerja hanya bisa dijembatani lewat kolaborasi yang solid.
Langkah nyata tersebut terpancar dalam rangkaian Seminar Nasional HVAC-R 2026, ketika PT Panasonic Gobel Indonesia, APITU Indonesia, dan Universitas Darma Persada (UNSADA) resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) Tripartit.
Kerja sama ini menjadi angin segar bagi para calon sarjana teknik yang merindukan kepastian karier dan kesiapan kerja.
Sinergi ini bukan sekadar tanda tangan di atas kertas, melainkan sebuah komitmen humanis untuk merawat potensi generasi muda.
Sektor teknisi tata udara dan pendingin (HVAC-R) kini memegang peran vital, mulai dari pembangunan gedung pintar hingga menjaga rantai dingin logistik pangan nasional.
Melalui kehadiran Training Center Panasonic di kampus UNSADA, para mahasiswa tidak lagi hanya berkutat dengan teori siklus refrigerasi di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan kesempatan menyentuh langsung teknologi terkini dan mempraktikkan standar keselamatan kerja di lapangan.
"Kemitraan tripartit seperti ini adalah contoh konkret link and match, di mana industri, asosiasi profesi, dan kampus bergerak bersama bersama mencetak tenaga kerja yang kompeten, tersertifikasi, dan siap bersaing," ujar Menaker Yassierli.
Ia menambahkan, sektor tata udara dan pendingin memiliki peluang kerja yang besar, karena kebutuhan teknisi HVAC-R akan terus tumbuh, mulai dari gedung pintar dan ramah lingkungan hingga rantai dingin untuk pangan dan logistik.
"Ini peluang yang harus kita siapkan SDM-nya sejak di bangku kuliah," katanya.
Sementara itu, Rektor Unsada Agus Salim Sadikin, menyatakan kehadiran Training Center Panasonic akan memperkaya pengalaman belajar mahasiswa.
"Bagi UNSADA, kerja sama ini membuka akses bagi mahasiswa untuk belajar langsung dengan teknologi dan standar industri. Kami ingin lulusan kami tidak hanya kuat secara teori, misalnya memahami siklus refrigerasi dan perhitungan beban pendinginan, tetapi juga terampil di lapangan dan siap bekerja maupun berwirausaha," kata Agus Salim Sadikin.
M. Arif Rachmat Gobel dari PT Panasonic Gobel Indonesia mengatakan Training Center ini menjadi wujud komitmen perusahaan terhadap pengembangan SDM nasional. Mengingat teknologi tata udara terus berkembang menuju sistem yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
"Melalui Training Center ini, kami ingin mahasiswa dan teknisi mendapatkan pengetahuan produk dan teknologi terkini, sehingga Indonesia memiliki tenaga ahli yang siap mendukung pembangunan smart and green building," ujarnya.
Sementara, Ketua Umum APITU Indonesia Agus Susilo menekankan pentingnya standar kompetensi bagi teknisi tata udara. Sebab profesi di bidang pendingin dan tata udara menuntut keahlian dan keselamatan kerja yang terstandar.
"Lewat kemitraan ini, para praktisi APITU siap berbagi pengalaman lapangan, membuka jejaring profesional, dan mendukung sertifikasi agar mahasiswa maupun teknisi mampu menjawab perkembangan teknologi dan regulasi, termasuk mutu rantai dingin," kata Agus Susilo. (bsf)
Editor : Inilahkoran
