Ketersediaan Komoditas Pokok Aman, Hanya 3 Ini yang Diwaspadai Disperindag Jabar
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat Noneng Komara Nengsih memastikan, ketersediaan komoditas pokok sejauh ini masih aman.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat Noneng Komara Nengsih memastikan, ketersediaan komoditas pokok sejauh ini masih aman.
Hanya ada tiga komoditas di Jawa Barat kata Noneng, yang tetap harus diwaspadai, yakni minyak goreng, beras dan beberapa jenis cabai.
Noneng berharap, tidak ada satu pun komoditas pokok yang langka hingga akhir tahun ini, guna memastikan laju inflasi di Jabar tetap stabil.
"Pangan aman. Di seluruh pasar tersedia. Tapi tetap ada pemicu inflasi. Kita targetkan 2,5 persen," ujarnya di Kota Bandung, Rabu 25 September 2024.
Khususnya minyak, karena Minyakita mengalami kenaikan harga, dari sebelumnya harga eceran tertinggi (HET) Rp14 ribu perliter menjadi Rp15.700 perliter, menyusul adanya Permendag Nomor 18 Tahun 2024.
Dimana akibatnya saat ini, tidak hanya kelangkaan yang terjadi di sejumlah wilayah, tetapi juga kenaikan harga signifikan turut mengiringi, imbas dari kebijakan tersebut.
"Ada (dampak), waktu sebelumnya ada relaksasi kemudian ditetapkan jadi HET. Kenaikan itu ada dampaknya. Harus diwaspadai," ucapnya.
Strategi kata dia sudah disiapkan, salah satunya melalui operasi pasar untuk memastikan stabilitas ketersediaan komoditas pokok dan harga.
Dimana sudah disiapkan dua kali operasi pasar, salah satunya menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru 2025 (Nataru).
"Kemungkinan dalam waktu dekat akan melakukan operasi pasar, termasuk kabupaten/kota. Sekarang di 20 kabupaten/kota," ucapnya.
Soal inflasi yang terjadi baru-baru ini, Noneng mengungkapkan anomali terjadi. Bila sebelumnya inflasi disebabkan oleh komoditas pokok, namun kali ini akibat kenaikan harga rokok karena meningkatnya harga cukai.
"Yang menjadi andil inflasi terbesar kemarin itu rokok. Kemudian harga masuk perguruan tinggi," ungkapnya. ***
Editor : JakaPermana

