Ketika Dapur Kota Mengepul Tanpa Banyaknya Sawah

Ketika Dapur Kota Mengepul Tanpa Banyaknya Sawah
PASAR: DKP3 mencatat ketersediaan 12 komoditas pangan strategis di Pasar Jagasatru, Kota Cirebon masih dalam kondisi surplus.(ISTIMEWA)

INILAH, Cirebon- Keterbatasan lahan pertanian tidak membuat Kota Cirebon mengalami defisit pangan. Dapur warga mengepul hingga akhir tahun.

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon mencatat bahwa 12 komoditas pangan strategis di kota ini berada dalam status surplus atau aman sejak awal tahun 2026.

Di balik keterbatasan lahan hijau untuk bertani, Kota Cirebon punya cara sendiri untuk bertahan, bahkan memberi pasokan ke daerah lain.

Alih-alih mengandalkan cangkul dan sawah, kekuatan utama kota ini justru hidup dari deru roda truk logistik, keringat para buruh panggul, dan keriuhan transaksi di pasar-pasar tradisional.

“Ketersediaannya surplus, aman. Antara ketersediaan dan kebutuhan masih lebih,” ujar Kepala Bidang Ketahanan Pangan DKP3 Kota Cirebon, Tarwidi.

Napas pangan kota ini bertumpu pada dua jantung utamanya: Pasar Jagasatru dan Pasar Pagi. Pasar Jagasatru menjadi saksi bisu sibuknya bongkar muat sayur, cabai, dan bawang yang segar dari berbagai daerah.

Sementara itu, Pasar Pagi menjadi pusat perdagangan beras yang memastikan pasokan karung-karung beras tidak pernah kosong. Menariknya, denyut nadi di kedua pasar induk ini tidak hanya menghidupi warga Cirebon.

Beras dan sayuran yang masuk ke sana mengalir jauh melintasi batas kota—menjadi penyambung hidup bagi masyarakat di wilayah Ciayumajakuning, Bandung, Jakarta, hingga Lampung.

Dari belasan bahan pokok yang dipantau, beras menjadi pahlawan utama yang menyumbang surplus terbesar.

Berdasarkan perhitungan Bulog, stok beras yang tersimpan rapat di gudang saat ini diproyeksikan sangat melimpah.

“Yang paling banyak surplusnya saat ini beras. Ibaratnya kalau sekarang distop pengadaannya, stok di gudang itu masih bisa mencukupi sampai tahun depan,” katanya.

Bahkan, jika pasokan dari luar dihentikan total hari ini, cadangan yang ada masih mencukupi kebutuhan warga hingga pertengahan 2027.

Surplus juga terjadi pada komoditas daging sapi. Ketersediaannya tercatat sekitar 199 ton, sementara kebutuhan sekitar 87 ton atau terdapat surplus sekitar 112 ton.

Dari total kebutuhan tersebut, sekitar 12 ton digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan 75 ton untuk kebutuhan nonrumah tangga, termasuk usaha kuliner seperti empal gentong dan bakso.

Keberadaan Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Cirebon turut menopang distribusi daging. Aktivitas pemotongan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kota Cirebon, tetapi juga melayani permintaan dari daerah sekitar.

Terkait kenaikan harga daging sapi beberapa waktu terakhir, Tarwidi menegaskan kondisi tersebut bukan disebabkan kelangkaan barang. Menurutnya, pasokan masih tersedia, sementara kenaikan harga lebih dipengaruhi meningkatnya harga bahan baku sapi yang sebagian berasal dari impor.

“Barangnya ada dan ketersediaannya cukup. Hanya memang harganya naik karena bahan bakunya naik, mungkin ongkos impor dan lain sebagainya,” jelasnya.

(maman suharman/bsf)


Editor : Inilahkoran