Ketika Sajian MBG Berujung Keluhan

MAKANAN datang sebagai bagian dari program pemenuhan gizi. Namun, sejumlah siswa SDN Garuda justru mengalami gangguan kesehatan

Ketika Sajian MBG Berujung Keluhan
DIHENTIKAN SEMENTARA: Ketua Satgas MBG KBB, Fauzan Azima, memaparkan pemberhentian sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambudipa 1 di Kabupaten Bandung Barat (KBB) selama 20 hari.(INILAH/AGUS SATIA NEGARA)

Mual, pusing, muntah, hingga sakit perut yang terasa melilit menjadi keluhan yang dialami sejumlah siswa SDN Garuda, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Keluhan itu muncul setelah para siswa menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 29 September 2026. Sajian yang seharusnya menjadi bagian dari pemenuhan gizi anak justru berujung pada dugaan gangguan kesehatan.

Peristiwa tersebut kemudian memicu pemeriksaan terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambudipa 1 yang memasok makanan bagi para siswa.

Satuan Tugas Makan Bergizi Gratis (Satgas MBG) KBB akhirnya mengambil langkah tegas. Operasional SPPG Jambudipa 1 dihentikan sementara selama 20 hari.

Ketua Satgas MBG KBB, Fauzan Azima, mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari pengawasan terhadap mutu dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

“Langkah ini bukti keseriusan pengawasan mutu dan keamanan pangan dalam program yang menyasar jutaan anak di seluruh negeri,” kata Fauzan, Senin (5/10).

Begitu laporan diterima, tim investigasi langsung turun ke lapangan. Pemeriksaan dilakukan dengan menelusuri berbagai tahapan, mulai dari proses penyiapan bahan, pengolahan makanan hingga pendistribusiannya ke sekolah.

Menu yang disantap siswa pada hari kejadian terdiri dari nasi putih, ayam chicken cordon bleu, kacang polong goreng, mix vegetable, serta buah kelengkeng sebagai hidangan penutup.

Dari pemeriksaan di lokasi, tim menemukan petunjuk yang mengarah pada salah satu komponen lauk. Makanan tersebut diduga mengalami perubahan rasa yang tidak biasa.

Perubahan rasa itu kemudian menjadi salah satu fokus pemeriksaan untuk mengetahui kemungkinan kaitannya dengan gangguan kesehatan yang dialami para siswa.

“Dari hasil asesmen lapangan secara menyeluruh, ditemukan dugaan adanya makanan, khususnya lauk yang berubah rasa. Petugas sudah mengambil sampelnya untuk diteliti lebih lanjut,” ungkapnya.

Sampel makanan yang diduga bermasalah telah diamankan. Pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk memastikan jenis masalah, penyebab, sekaligus tingkat bahayanya.

(agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran