Korcam SPPG Disorot, Dapur MBG Pameungpeuk 03 Keluhkan Dugaan Diskriminasi
Pengelola dapur MBG SPPG Pameungpeuk 03 di Desa Rancatungku, Kec Pameungpeuk, Kab Bandung mengeluhkan dugaan ketidakadilan dalam pembagian penerima manfaat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pengelola dapur MBG SPPG Pameungpeuk 03 di Desa Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung mengeluhkan dugaan ketidakadilan dalam pembagian penerima manfaat.
Mereka menilai kebijakan yang diterapkan Koordinator Kecamatan (Korcam) Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pameungpeuk menyebabkan dapur yang memiliki kapasitas besar justru hanya melayani sedikit penerima manfaat.
PIC Mitra Yayasan Bale Asih Rancage SPPG Pameungpeuk 03 Tisna Rosmana mengatakan, hingga kini dapurnya hanya melayani sekitar 1.300 penerima manfaat. Sebagian besar di antaranya merupakan kategori porsi kecil dan B3. Padahal, kapasitas dapurnya mampu melayani hingga sekitar 3.000 penerima manfaat.
"Penerima manfaat kami hanya sekitar 1.300 orang. Ironisnya, sekolah-sekolah yang kami layani berada hampir enam kilometer dari dapur. Sepanjang perjalanan ke Desa Langonsari justru kami melewati lima sampai enam dapur SPPG lainnya," kata Tisna, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan pemerataan distribusi penerima manfaat. Dia mempertanyakan alasan sekolah yang lokasinya lebih dekat dengan dapur lain justru tetap menjadi tanggung jawab SPPG Pameungpeuk 03.
Tisna mengaku persoalan tersebut sudah beberapa kali disampaikan kepada Korcam SPPG Kecamatan Pameungpeuk, Budi. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut.
Bahkan, kata dia, pihak korcam meminta dapur terlebih dahulu melengkapi sejumlah persyaratan seperti Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dan sertifikat halal apabila ingin memperoleh tambahan penerima manfaat.
Padahal, menurut Tisna, seluruh persyaratan tersebut saat ini sedang diproses. Ia juga menilai dapur tetap dapat beroperasi sesuai kapasitas sambil melengkapi administrasi yang diperlukan.
"Yang membuat kami heran, ketika ada SPPG di sekitar kami yang penerima manfaatnya sebagian dialihkan, justru dibagikan ke dapur lain yang lokasinya lebih jauh. Bukan ke SPPG Pameungpeuk 03 yang paling dekat. Kami merasa ada perlakuan yang tidak adil dalam pemerataan PM," ujarnya.
Akibat minimnya jumlah penerima manfaat, Tisna mengaku operasional dapur tidak berjalan optimal. Dari total 47 relawan yang telah direkrut, baru 35 orang yang bisa dipekerjakan.
Menurutnya, kondisi tersebut turut menghambat penyerapan tenaga kerja lokal di Kecamatan Pameungpeuk.
Tisna juga menyoroti aspek keamanan distribusi makanan. Jarak pengiriman yang mencapai lebih dari empat hingga lima kilometer dinilai berpotensi memengaruhi kualitas makanan sebelum diterima siswa maupun kelompok sasaran lainnya.
"Yang kami distribusikan adalah makanan siap saji yang harus tetap segar dan layak dikonsumsi. Semakin jauh jarak tempuh, tentu risikonya semakin besar terhadap kualitas makanan bagi anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita," ujarnya.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak Korcam SPPG Kecamatan Pameungpeuk yang disebut dalam keluhan tersebut belum memberikan keterangan resmi.
INILAHKORAN.ID masih berupaya meminta konfirmasi guna memperoleh penjelasan dan tanggapan atas tudingan yang disampaikan pengelola SPPG Pameungpeuk 03.
Editor : Doni Ramdhani
