Kuba Bantah Tuduhan Trump, Bruno Rodriguez: Kuba Bukan Ancaman bagi AS
Menlu Kuba Bruno Rodriguez membantah pernyataan Donald Trump di PBB dan menegaskan Kuba bukan ancaman bagi Amerika Serikat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez membantah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai kondisi dan posisi Kuba dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-81.
Rodriguez menilai Trump menyampaikan sejumlah pernyataan yang tidak benar mengenai Kuba, termasuk terkait tuduhan bahwa negara tersebut merupakan ancaman bagi Amerika Serikat.
"Pemerintah #AS tidak mampu menerima kenyataan bahwa #Kuba adalah dan memiliki hak untuk menjadi negara yang sepenuhnya berdaulat dan merdeka. Tidak satu pun kebohongan Presiden AS di PBB dapat menyangkal fakta tersebut," kata Rodriguez melalui akun X.
"Kuba tidak menimbulkan ancaman bagi AS maupun negara mana pun," lanjutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Rodriguez setelah Trump dalam pidatonya menyebut Kuba sebagai negara yang gagal dan mengatakan rezim komunis di negara itu berada di bawah tekanan besar dari pemerintahannya. Trump juga mengatakan perubahan di Kuba akan terjadi.
Menanggapi tekanan tersebut, Rodriguez justru menuding kebijakan ekonomi dan energi AS sebagai faktor yang mengancam kondisi Kuba.
Menurut dia, blokade ekonomi serta tekanan terhadap pasokan energi Kuba bersifat menghukum dan berdampak terhadap masyarakat di negara tersebut. Pernyataan serupa juga disampaikan Rodriguez dalam pertemuan menteri Komunitas Negara-Negara Amerika Latin dan Karibia (CELAC) di sela-sela Sidang Umum PBB.
Ketegangan tersebut juga terlihat di ruang Sidang Umum PBB. Delegasi Kuba meninggalkan ruang sidang ketika Trump menyampaikan bagian pidatonya mengenai Kuba, setelah presiden AS tersebut mengecam pemerintahan komunis di negara Karibia itu.
Trump mengatakan pemerintahannya tengah memberikan tekanan besar terhadap pemerintahan Kuba. Ia menyebut tekanan tersebut sebagai yang terbesar yang pernah dihadapi rezim di Havana.
"My administration is also seeking a fundamental change in the situation in Cuba, where the communist regime is under great pressure," ujar Trump dalam pidatonya, sebagaimana dikutip Reuters.
Hubungan AS dan Kuba dalam beberapa bulan terakhir kembali mengalami ketegangan. Pemerintahan Trump meningkatkan tekanan terhadap Havana melalui berbagai kebijakan ekonomi dan pembatasan terkait pasokan energi.
Pemerintah Kuba menyatakan kebijakan tersebut telah memperburuk persoalan bahan bakar dan berdampak pada sektor listrik serta layanan publik. Dalam pernyataan sebelumnya di forum PBB, diplomat Kuba juga menyebut pembatasan tersebut berpengaruh terhadap akses terhadap pangan, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya.
Di sisi lain, pemerintahan Trump mempertahankan kebijakan tekanannya terhadap pemerintah Kuba sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan politik di negara tersebut.
Perbedaan pandangan itu menunjukkan kembali tajamnya perselisihan antara Washington dan Havana di tengah berlangsungnya Sidang Majelis Umum PBB ke-81.***
Editor : JakaPermana

