Kubah Tua Itu Masih Menatap Langit

KUBAH Bosscha bersiap menjalani perawatan menyeluruh. Bukan sekadar mempercantik, tetapi menjaga sejarah astronomi.

Kubah Tua Itu Masih Menatap Langit
CAGAR BUDAYA: Kawasan Observatorium Bosscha, salah satu peninggalan bersejarah dan cagar budaya paling ikonik di Lembang, KBB bakal segera menjalani perawatan berkala dan pengecatan menyeluruh.(INILAH/AGUS SATIA NEGARA)

Hampir seabad lamanya sebuah kubah berdiri di antara perbukitan Lembang. Dari balik kubah itu, langit malam diamati, bintang-bintang ditelusuri, dan perjalanan astronomi Indonesia berkembang dari waktu ke waktu.

Kini, kubah utama Observatorium Bosscha, Dom Zeiss, bersiap menjalani perawatan berkala dan pengecatan menyeluruh. Bangunan yang menaungi teleskop Refraktor Ganda Zeiss itu telah berdiri sejak 1928 dan menjadi salah satu peninggalan bersejarah paling ikonik di Kabupaten Bandung Barat.

Perawatan tersebut bukan sekadar membuat bangunan tampak kembali segar. Ada kepentingan ilmiah dan pelestarian sejarah yang harus berjalan beriringan.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Budaya (Disparekrafbud) Kabupaten Bandung Barat, Taufik Kurnaefi, mengatakan Observatorium Bosscha memiliki posisi penting bagi masyarakat setempat. Keberadaannya bukan hanya sebagai fasilitas penelitian astronomi, tetapi juga lambang daerah dan bagian dari identitas masyarakat Bandung Barat.

"Keberadaan Observatorium Bosscha bukan sekadar fasilitas penelitian astronomi, melainkan salah satu lambang daerah dan cagar budaya utama yang menjadi identitas kebanggaan masyarakat KBB," kata Taufik, Rabu (7/10).

Perhatian utama diarahkan pada kubah berdiameter 14,5 meter. Pengecatan menggunakan pelapis khusus yang dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem sekaligus memantulkan radiasi sinar matahari secara maksimal.

Material tersebut memiliki fungsi yang lebih penting daripada sekadar warna baru. Lapisan pelindung itu dirancang untuk mengurangi penyerapan panas ke dalam ruang kubah pada siang hari.

Suhu di dalam kubah perlu tetap terkendali. Sebab, kestabilan temperatur di sekitar teleskop berkaitan dengan ketepatan perangkat optik ketika digunakan untuk mengamati langit pada malam hari.

"Pemilihan material ini bukan tanpa alasan, karena lapisan tersebut berfungsi meminimalkan penyerapan panas ke dalam ruang kubah pada siang hari, sehingga kestabilan suhu di sekitar teleskop dapat terjaga," kata Taufik.

"Suhu yang stabil menjadi syarat mutlak agar perangkat optik tetap presisi saat digunakan untuk pengamatan pada malam hari," sambungnya.

Namun, merawat bangunan yang telah menjadi bagian dari sejarah astronomi Indonesia tidak bisa dilakukan sembarangan.

(agus satia negara/gin)


Editor : Inilahkoran