Kuliah Sambil Bekerja di Jepang: Merajut Asa di Negeri Sakura

SERATUS anak muda Majalengka disiapkan kuliah sekaligus bekerja di Jepang. Program ini membuka jalan pendidikan dan pengalaman kerja bagi keluarga kurang mampu.

Kuliah Sambil Bekerja di Jepang: Merajut Asa di Negeri Sakura
BUKA AKSES: Suasana peluncuran program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja di Majalengka, Jawa Barat, Kamis (8/10). Program tersebut menjadi upaya pemerintah daerah membuka akses kuliah bagi masyarakat yang terkendala biaya sekaligus mempersiapkan generasi muda agar memiliki keterampilan untuk memasuki dunia kerja.(ANTARA/HO-PEMKAB MAJALENGKA)

Peluang melanjutkan pendidikan tinggi kini disiapkan lebih luas bagi anak-anak Majalengka dari keluarga kurang mampu. Pemerintah Kabupaten Majalengka menyiapkan 100 mahasiswa untuk kuliah sekaligus bekerja di Jepang melalui program Satu Desa Satu Sarjana Plus Bekerja.

Program tersebut menjadi pengembangan dari program Satu Desa Satu Sarjana yang sebelumnya berfokus membuka akses pendidikan tinggi. Kini, kesempatan itu diperluas dengan pengalaman kerja di luar negeri.

Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan pendidikan harus menjadi prioritas, termasuk bagi masyarakat yang selama ini terkendala biaya.

“Kami ingin anak-anak Majalengka, khususnya dari keluarga kurang mampu, memiliki kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,” katanya seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (8/10).

Program yang dijalankan bersama Universitas Teknologi Bandung (UTB) itu memprioritaskan peserta dari keluarga kelompok desil 1-4, yakni masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terbawah.

Sebelum berangkat, 100 peserta akan menjalani pelatihan selama enam bulan. Bahasa Jepang, pembentukan mental, kedisiplinan, dan keterampilan kerja menjadi bekal yang dipersiapkan sebelum mereka melanjutkan pendidikan sekaligus bekerja di Jepang.

Skema tersebut diharapkan memberi pengalaman yang lebih luas. Peserta tidak hanya mengejar gelar sarjana, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis dan pengalaman kerja di lingkungan internasional.

“Kombinasi pendidikan dan pekerjaan diharapkan membuat peserta tidak hanya memiliki gelar sarjana, tetapi juga keterampilan praktis dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk membangun kemandirian ekonomi setelah kembali ke daerah,” ujar Eman. (gin)


Editor : Inilahkoran