LUTD PLN UID Jabar, Dari Listrik Menuju Kemandirian Ekonomi

Program LUTD PLN UID Jabar dinilai perlu melampaui penyambungan listrik dengan mendorong produktivitas, kualitas hidup, dan kemandirian ekonomi masyarakat.

LUTD PLN UID Jabar, Dari Listrik Menuju Kemandirian Ekonomi
Program LUTD PLN UID Jabar dinilai perlu melampaui penyambungan listrik dengan mendorong produktivitas, kualitas hidup, dan kemandirian ekonomi masyarakat. (Ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Program Light Up the Dream (LUTD) PLN UID Jawa Barat dinilai perlu diarahkan lebih dari sekadar menambah sambungan listrik bagi masyarakat prasejahtera. Program tersebut juga perlu memastikan akses energi mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup keluarga penerima manfaat.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, mengatakan manfaat listrik tidak berhenti pada penerangan. Akses listrik dapat membantu keluarga mengelola waktu, memperoleh informasi, hingga menjalankan berbagai aktivitas produktif.

“Manfaat listrik tidak berhenti pada penerangan. Listrik meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengelola waktu, memperoleh informasi, dan menjalankan aktivitas produktif,” kata Kristian, dalam keterangan persnya. 

Menurut dia, listrik merupakan infrastruktur dasar yang memungkinkan masyarakat menjalankan berbagai aktivitas secara lebih optimal.

Bagi keluarga prasejahtera, keberadaan listrik dapat memperpanjang waktu belajar anak, mendukung penyimpanan makanan, meningkatkan keamanan rumah, serta membuka akses terhadap teknologi informasi.

Namun, kualitas akses juga perlu menjadi perhatian. Ketersediaan daya, keterjangkauan biaya, dan kesinambungan pasokan turut menentukan sejauh mana listrik dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan produktif.

Karena itu, Kristian menilai keberhasilan LUTD tidak cukup diukur dari jumlah sambungan listrik yang diberikan. Evaluasi juga perlu melihat perubahan kehidupan dan aktivitas ekonomi masyarakat setelah memperoleh akses energi.

Di sektor ekonomi, listrik dapat dimanfaatkan untuk menjalankan mesin produksi, lemari pendingin, komputer, mesin pengemasan, hingga berbagai perangkat digital. Petani dan pelaku usaha lainnya juga dapat menggunakannya untuk mengolah maupun menyimpan hasil produksi.

“Semakin baik akses dan kualitas listrik, semakin besar peluang masyarakat untuk mengubah sumber daya yang dimiliki menjadi kegiatan ekonomi bernilai tambah,” ujarnya.

Perlu Dukungan Lanjutan

Kristian mengingatkan, manfaat ekonomi tidak otomatis muncul setelah listrik tersedia. Karena itu, program penyambungan listrik dapat diikuti dengan pendidikan, pelatihan keterampilan, penguatan UMKM, akses pembiayaan, dan pengembangan pasar.

Dalam konteks PLN UID Jawa Barat, pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi penerima manfaat di berbagai wilayah.

Pemerintah daerah, kata dia, perlu dilibatkan dalam pemetaan kebutuhan. Sementara masyarakat dapat dilibatkan dalam perencanaan dan pemanfaatan program.

Menurut Kristian, keberhasilan program sosial perlu dilihat dari dampak yang muncul setelah bantuan diberikan. Indikatornya antara lain peningkatan pendapatan, aktivitas ekonomi, kemampuan belajar, serta pemanfaatan teknologi.

Dengan pendekatan tersebut, LUTD dapat menjadi tahap awal untuk memperkuat kemampuan masyarakat. Akses listrik pun tidak hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka peluang manfaat sosial dan ekonomi secara berkelanjutan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur