Menanti Kuliner Bernuansa Kafe di Shelter Dadaha

Menanti Kuliner Bernuansa Kafe di Shelter Dadaha
SHELTER: Sejumlah PKL yang tergabung dalam PPKM Dadaha secara mandiri mulai menempati tempat baru di kawasan Shelter Dadaha, Kota Tasikmalaya.(INILAH/NUNUNG NUROHMAN)

INILAH, Tasikmalaya- Rabu (7/10) Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Kecil dan Mikro (PPKM) Dadaha melangkah mantap memasuki babak baru kehidupan mereka di Shelter Dadaha, Kota Tasikmalaya.

Secara mandiri dan penuh gotong royong, mereka resmi menempati tempat jualan yang baru.

Sebuah acara syukuran sederhana digelar untuk menandai langkah awal ini.

Hadir di tengah-tengah kebahagiaan para pedagang, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra bersama Kadisporabudpar Deddy Mulyana, memberikan dukungan moral yang amat berarti bagi masa depan mereka.

Bagi para pedagang, pindah ke tempat baru bukan sekadar urusan memindahkan gerobak atau mengganti tenda.

Ini adalah tentang menyalakan kembali api dapur yang hampir redup. Ketua Pengelola Shelter Dadaha, Ana Nuryana, bercerita dengan mata berbinar tentang mimpi besar mereka mengubah tempat ini menjadi Shelter Recreation Center.

“Bagaimana saya memajukan shelter, intinya, para PKL itu mengejar keramaian.

Sekarang kita balik, kita yang harus menciptakan keramaian itu agar masyarakat mau berkunjung ke sini,” ujar Ana penuh semangat.

Menurutnya, selama ini kawasan shelter belum dikelola secara maksimal sehingga terlihat kurang terawat dan minim aktivitas. Karena itu, pihaknya ingin membangun suasana yang lebih menarik bagi masyarakat.

“Selama ini memang seakan terbengkalai karena tidak ada orang yang mengelola yang punya jiwa entertain, itu mungkin kelemahannya,” ujarnya.

Ana menyebut konsep yang disiapkan akan mengarah pada suasana kafe dengan menawarkan beragam jajanan khas PKL dengan harga terjangkau.

“Konsepnya tetap kita lebih mengarah ke nuansa caffe, dengan jajanan yang sangat murah, jajanan PKL, itupun saya akan memfilter jajanan yang memang ciri khas,” katanya.

Ia mengatakan, menu yang ditawarkan nantinya diharapkan memiliki ciri khas tersendiri sehingga masyarakat memiliki alasan untuk datang ke Shelter Dadaha.

“Ketika orang berkunjung ke shelter itu ada tujuannya, apakah misalkan naSi bakarnya, gudegnya dan lain lain, yang jelas bukan menu umum,” ujar Ana.

Saat ini, kata dia, terdapat sekitar 70 pedagang yang telah terdaftar. Sementara jumlah lapak yang telah terisi disebut mencapai sekitar 80-an, termasuk penghuni bawaan dari UPTD.

Ana juga berharap pengelolaan Shelter Dadaha dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pedagang, pemerintah dan pihak lainnya. Menurutnya, pemerintah memiliki peran dalam menyediakan fasilitas, sementara pengelolaan dan pengembangan kawasan membutuhkan pihak yang secara khusus menjalankannya.

(nunung nurohman)


Editor : Inilahkoran