Mencari Solusi Masalah Sarimukti
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Setiap kali membicarakan sampah, Muhammad Farhan seperti sedang menghitung waktu.
Sarimukti terus menerima kiriman, sementara Bandung harus mencari cara agar tidak semua sampah berakhir di sana.Kegelisahan itu kemudian membawa Farhan pada satu gagasan: sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya.
Sebagai Wali Kota Bandung, Farhan mendorong keberadaan mesin pembuat briket di seluruh kelurahan. Sebanyak 151 kelurahan ditargetkan memiliki sedikitnya satu mesin, dengan kemampuan mengolah minimal satu ton sampah.
“Pengolahan teknologi yang ada sekarang, bantuan dari provinsi di RW 3 Kelurahan Pasir Impun berupa pembuatan briket, RDF briket dan mudah-mudahan segera bisa dijalankan dan optimal,” kata Farhan, Kamis (8/10).
Bagi Farhan, langkah tersebut menjadi salah satu cara mengurangi beban sampah sebelum semuanya bergerak menuju Sarimukti.
Dia ingin pengolahan tidak hanya bertumpu pada fasilitas besar, tetapi mulai dilakukan dari lingkungan tempat sampah itu berasal.
Gagasan itu kemudian diperluas melalui program compost pit. Fasilitas berkapasitas satu hingga dua meter kubik tersebut direncanakan hadir tiga titik di setiap RT.
“Targetnya adalah ada tiga titik compost pit di satu RT. Itu bisa meng-handle sampai 30 persen lagi sampah di situ,” ujar Farhan.
Setiap RT nantinya diwajibkan memiliki compost pit dengan dukungan subsidi. Sampah organik diharapkan dapat diolah lebih dekat dengan rumah warga, sehingga tidak semuanya perlu diangkut menuju tempat pemrosesan akhir.
Farhan juga berharap fasilitas pengolahan sampah di Gedebage dapat segera berjalan. Fasilitas yang disiapkan bersama Danantara, PLN, Pertamina, dan Kementerian Riset dan Teknologi itu ditargetkan mampu menangani sekitar 30 persen sampah yang ada saat ini.
Namun, persoalan sampah tidak berhenti di wilayah Kota Bandung.
Kabupaten Bandung turut mempertimbangkan kemungkinan memiliki tempat pemrosesan akhir sendiri apabila Sarimukti ditutup. Sejumlah lahan disebut berpotensi digunakan, meski masih membutuhkan kajian dan perizinan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Abdul Wahid Fauzy mengatakan persoalan residu tetap harus diperhitungkan.
Sebab, setiap proses pengolahan sampah selalu menyisakan bagian yang membutuhkan tempat pemrosesan akhir.
Pertanyaan itu kembali membawa Bandung pada satu persoalan lama: ke mana sampah akan pergi ketika tempat terakhir tidak lagi mampu menerima? Farhan tampaknya tidak ingin kota terus menjawab pertanyaan itu dengan mengandalkan Sarimukti. Dia memilih memperbanyak jalan sebelum sampah mencapai ujung perjalanan.
Mesin briket di kelurahan.
Compost pit di tingkat RT. Pengolahan dari sumber.
Semua menjadi bagian dari upaya mengurangi sampah sebelum berubah menjadi beban di tempat pemrosesan akhir.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung mempertimbangkan satu pilihan: membuka Tempat Pembuangan Akhir (TPA) secara mandiri.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bandung Abdul Wahid Fauzy mengatakan, pilihan tersebut masih membutuhkan kajian.
Terutama karena proses pengelolaan sampah tidak pernah benar-benar membuat seluruh sampah habis.
“Kalau berbicara lahan, sebetulnya Kabupaten Bandung juga punya lahan. Ada beberapa titik yang sebetulnya bisa. Apakah dengan rencana ditutupnya itu boleh enggak kami melakukan upaya membuka TPA mandiri versi kita, Kabupaten Bandung,” kata Wahid di Bandung, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (8/10).
Pertanyaan itu muncul karena sampah dari masyarakat tidak bisa seluruhnya diolah hingga tak menyisakan apa pun. Selalu ada residu yang pada akhirnya membutuhkan tempat untuk dibuang.
Di sinilah persoalan menjadi lebih rumit. Selama ini Sarimukti menjadi fasilitas pengolahan sampah regional bagi wilayah Bandung Raya. Pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Jika fasilitas tersebut tidak lagi digunakan, pemerintah kabupaten dan kota harus memiliki kepastian mengenai tempat berakhirnya residu.
“Kalau TPA-nya ditutup, residunya ke mana, sementara kita enggak boleh mengelola sampah sendiri.
Itu persoalannya,” ujar Wahid.
Kabupaten Bandung sebenarnya tidak tinggal diam. Pengurangan sampah dari sumber terus didorong melalui pengelolaan di tingkat rumah tangga dan kawasan. TPS 3R serta bank sampah juga menjadi bagian dari upaya agar tidak semua sampah berakhir di fasilitas pembuangan akhir.
Bagi Wahid, pengurangan dari sumber menjadi semakin penting ketika ada pembatasan kuota pembuangan sampah.
“Jadi sampah-sampah itu harus dihitung mana yang memang untuk dibuang, mana yang untuk dikelola,” katanya.
Artinya, perjalanan sampah perlu ditentukan sejak awal. Mana yang masih bisa dipilah, dimanfaatkan, atau diolah, dan mana yang memang harus menempuh perjalanan terakhir menuju fasilitas pembuangan.
Namun, upaya mengurangi sampah dari sumber tidak serta-merta menghapus kebutuhan terhadap TPA. Proses pengolahan tetap menghasilkan residu.
Karena itu, Kabupaten Bandung masih menunggu kejelasan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengenai skema pengelolaan residu apabila Sarimukti ditutup.
(yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran
