Napas Panjang Industri Manufaktur
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta- Sektor manufaktur Indonesia membuktikan ketangguhannya dengan tetap bertahan dan bangkit di tengah jepitan krisis global maupun domestik.
Di balik angka-angka ekonomi yang rumit, ada jutaan nasib pekerja dan dapur keluarga yang tetap mengepul berkat bertahannya pabrik-pabrik di tanah air.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengungkapkan kekagumannya terhadap daya juang industri ini.
"Tanpa pandemi saja, dengan berbagai faktor saat ini, industri manufaktur sulit bertahan pada zona ekspansi," ujarnya di Jakarta, Senin (5/10).
Bayangkan saja, setelah babak belur dihantam badai COVID-19, para pelaku usaha tidak bisa bernapas lega. Mereka langsung dihadapkan pada kenyataan pahit: ekonomi negara mitra dagang yang lesu, konflik Timur Tengah yang memanas, hingga meroketnya biaya bahan baku.
Namun, optimisme itu kembali menyala. Pada September, PMI Manufaktur Indonesia melesat ke level 52,4, sebuah angka yang menandakan bahwa pabrik-pabrik kita kembali bergeliat dan memperluas produksinya.
Bagi masyarakat awam, angka 52,4 mungkin hanya sebuah statistik. Namun di lapangan, angka ini adalah simbol dari: Pintu-pintu pabrik yang tetap terbuka untuk para buruh, asap knalpot produksi yang terus mengepul menandakan adanya pesanan, serta kepastian upah yang dibawa pulang ke rumah untuk anak dan istri.
Meski demikian, jalan di depan masih terjal. Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, mengingatkan kita untuk tidak cepat berpuas diri hanya karena angka satu bulan.
Faisal menjelaskan bahwa para pengusaha saat ini sedang memutar otak akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Dollar yang mahal membuat biaya impor bahan baku membengkak, belum lagi ditambah kacaunya rantai pasok barang.
Ketahanan industri ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah cerita tentang daya lentur, kreativitas para pelaku usaha, dan keringat jutaan pekerja yang menolak menyerah pada keadaan. (bsf)
Editor : Inilahkoran

