Pasca Ambruknya Atap Gedung SMKN 1 Cileungsi, Komisioner KPAD Kabupaten Bogor Desak Disdik Bangun Sekolah Aman Bencana

Ambruknya atap Gedung SMKN 1 Cileungsi beberapa waktu lalu juga menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Daerah KPAD Kabupaten Bogor.

Pasca Ambruknya Atap Gedung SMKN 1 Cileungsi, Komisioner KPAD Kabupaten Bogor Desak Disdik Bangun Sekolah Aman Bencana
Hal itu, karena Gedung SMKN 1 Cileungsi tidak aman dari bencana, salah satunya tidak ada jalur evakuasi, dimana tangga sekolah baik dari lantai 1 ke lantai 2 atau sebaliknya hanya satu. Komisioner KPAD Kabupaten Bogor Sofian pun mengimbau semua bangunan sekolah seharusnya aman dari bencana. (reza zurifwan)

INILAHKORAN, Bogor - Ambruknya atap Gedung SMKN 1 Cileungsi beberapa waktu lalu juga menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Daerah KPAD Kabupaten Bogor.

Hal itu, karena Gedung SMKN 1 Cileungsi tidak aman dari bencana, salah satunya tidak ada jalur evakuasi, dimana tangga sekolah baik dari lantai 1 ke lantai 2 atau sebaliknya hanya satu. Komisioner KPAD Kabupaten Bogor Sofian pun mengimbau semua bangunan sekolah seharusnya aman dari bencana. 

Untuk itu, pembangunan bangunan aman dari bencana, tutur Sofian merupakan kewajiban Dinas Pendidikan (Disdik), baik Disdik Kabupaten Bogor untuk jenjang TK hingga SMP maupun Disdik Jawa Barat untuk SMA dan Sekolah Luar Biasa (SLB).

"Saya mengimbau, agar bangunan sekolah aman dari bencana, mereka harus menyiapkan jalur evakuasi, jadi ketika ada bencana gempa bumi, kebakaran, dan lainnya, mereka bisa terhindar dari bencana," kata Sofian kepada INILAHKORAN, Rabu 24 September 2025.

Sofian menerangkan, proses rehabilitasi Gedung SMKN 1 Cileungsi yang atapnya rusak sebaiknya juga diikuti dengan pembangunan tangga darurat.

"Bayangkan, di empat kelas yang di lantai 2, masing-masing kelas minimal ada 30 siswa, lalu ketika ada bencana seperti kemarin, 120 orang siswa berdesak-desakan di tangga karena ingin menyelamatkan diri. Oleh karena itu, rehabilitasi gedungnya juga harus dibangunkan tangga darurat," terangnya.

Ia menambahkan, bahwa rambu-rambu mitigasi bencana juga harus dipasang di lingkungan sekolah-sekolah.

Masih di sekolah, ekstra kulikuler Palang Merah Remaja (PMR) dan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) juga harus ada. 

"Seperti rambu jalur evakuasi, titik kumpul, lalu PMR dan sarana prasarana lainnya juga harus ada. Keselamatan siswa dan guru harus diutamakan, baru setelah itu, sekolah juga harus menjadi sekolah yang ramah anak," tambahnya. 

Informasi Inilah Koran, ada 30 orang lebih baik siswa maupun Guru SMKN 1 Cileungsi yang menjadi korban bencana ambruknya atap gedung yang selesai dibangun pada Tahun 2016 tersebut.

Mereka pun langsung dilarikan ke Rumah Sakit dr Abdul Radjak, dan bahkan 1 orang siswi atas nama Bintang Gracia Artauli kelas XI Teknik Logistik harus dirujuk ke RSUD KH. Idham Khalid. 


Editor : Doni Ramdhani