Orang Tua Korban Atap SMKN 1 Cileungsi Ambruk Ngadu ke Abdul Mu'ti, Kenapa?

Helena ibu dari siswi kelas XI Teknik Logistik SMKN 1 Cileungsi Bintang Gracia Artauli yang sempat dirawat di Rumah Sakit dr Abdul Radjak.

Orang Tua Korban Atap SMKN 1 Cileungsi Ambruk Ngadu ke Abdul Mu'ti, Kenapa?
Abdul Mu'ti mengatakan akan berkordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak rumah sakit, agar siswa-siswi yang menjadi korban ambruknya atap Gedung SMKN 1 Cileungsi bisa ditangani dengan cepat dan dilayani dengan baik. (reza zurifwan)

INILAHKORAN, Bogor - Helena ibu dari siswi kelas XI Teknik Logistik SMKN 1 Cileungsi Bintang Gracia Artauli yang sempat dirawat di Rumah Sakit dr Abdul Radjak.

Hal itu karena sebagai korban atap sekolah yang ambruk, dirinya sempat mengurus sendiri pengobatannya, bahkan sempat menggunakan kartu BPJS-nya.

Padahal, Pemkab Bogor kabarnya menanggung sepenuhnya biaya perawatan di Rumah Sakit, untuk para siswa dan guru SMKN 1 Cileungsi yang terluka akibat terkena pecahan atap gedung SMKN 1 Cileungsi yang ambruk pada Rabu pagi kemarin.

Keluhan itu, ia sampaikan langsung ke Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat Purwanto dan Kepala SMKN 1 Cileungsi Meisye Yeti.

"Udah kaget, saya capek kalau harus mengurus seluruh administrasi. Harusnya karena bencana dan emergency, kami dipermudah administrasi perawatannya, bahkan saya sempat menggunakan Kartu BPJS walaupun kemudian tidak difungsikan karena biaya pengobatan sudah ditanggung Pemkab Bogor,"  ungkap Helena kepada wartawan, Kamis 11 September 2025.

Rabu malam, kekecewaan Helena bertambah saat anak pertamanya akan diirujuk dari Rumah Sakit dr Abdul Radjak ke RSUD Ciawi atau RSUD KH Idham Chalid.

"Bukannya dibantu, kami yang sedang kena bencana tetap harus mengurus administrasi lagi dan birokrasi seperti dipersulit dan bukannya dibantu oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit dr Abdul Radjak," tambahnya 

Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa hingga Kamis pagi, Bintang Gracia Artauli tidak juga ditangani, walaupun sudah dimasukkan atau dirawat di dalam kamar kelas II.

"Hingga pagi tadi, anak kami belum ditangani dokter spesialis, padahal sebelum diperiksa dengan alat kesehatan MRI (Magnetic Resonance Imaging), anak kami sudah diwajibkan puasa sejak terluka kemarin," tuturnya.

Abdul Mu'ti mengatakan akan berkordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak rumah sakit, agar siswa-siswi yang menjadi korban ambruknya atap Gedung SMKN 1 Cileungsi bisa ditangani dengan cepat dan dilayani dengan baik.

"Kami akan meminta rumah sakit, agar siswa-siswi SMKN 1 Cileungsi yang masih dirawat dapat ditangani dengan baik dan dilayani secara cepat, namun tetap sesuai aturan yang berlaku di rumah sakit," kata Abdul Mu'ti.


Editor : Doni Ramdhani