Terkait Atap Runtuh, Begini Penjelasan Pihak SMP Pasundan 1 Bandung

Atap salah satu ruang kelas di SMP Pasundan 1 Bandung ambruk pada Senin 3 November 2025 sekitar pukul 11.00 WIB. 

Terkait Atap Runtuh, Begini Penjelasan Pihak SMP Pasundan 1 Bandung
Kepala SMP Pasundan 1 Bandung Hasmulyani menjelaskan, kejadian terjadi secara tiba-tiba saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung. (cesar yudistira)

INILAHKORAN, Bandung - atap salah satu ruang kelas di SMP Pasundan 1 Bandung ambruk pada Senin 3 November 2025 sekitar pukul 11.00 WIB. 

Dalam insiden tersebut, tujuh orang dilaporkan mengalami luka-luka, terdiri dari enam siswa dan satu pekerja bangunan.

Kepala SMP Pasundan 1 Bandung Hasmulyani menjelaskan, kejadian terjadi secara tiba-tiba saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung.

"Awal kejadiannya kami dikabari sekitar pukul 11.00 WIB. Ruangan itu memang ruangan yang biasa digunakan sehari-hari dan selama ini tidak pernah terjadi apa-apa," ujar Hasmulyani kepada wartawan di sekolah tersebut.

Menurutnya, atap ambruk itu disebabkan faktor usia bangunan yang sudah tua.

"Bangunan itu sudah lama, sekitar tahun 1993-an. Kuda-kuda dan bagian atapnya sudah lapuk. Kami sebenarnya sudah berencana mengajukan revitalisasi bangunan, termasuk ruangan ini, untuk awal tahun depan. Tapi keburu ambruk," jelasnya.

Hasmulyani menuturkan, enam siswa sempat mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan. Beberapa di antaranya telah diperbolehkan pulang setelah mendapat perawatan.

"Ada enam anak yang luka-luka, empat sudah pulang karena luka ringan. Dua lainnya masih dironsen, mudah-mudahan juga hanya luka ringan," katanya.

Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar (KBM) di SMP Pasundan 1 Bandung dialihkan ke ruang kelas lain agar proses pembelajaran tetap berjalan.

"Kami padatkan dulu ke kelas lain, dibagi ke lima kelas, masing-masing sekitar lima orang. KBM tidak boleh terganggu," tutur Hasmulyani.

Selain para siswa, satu pekerja bangunan bernama Sunan juga menjadi korban dalam insiden tersebut. Hal itu dibenarkan oleh Kapolsek Regol, Kompol Heri Suryadi, yang menyebut total korban mencapai tujuh orang.

"Benar, total korban ada tujuh orang, termasuk satu pekerja bangunan atas nama Sunan," ujar Heri saat dihubungi terpisah.


Editor : Doni Ramdhani