Pelaku Usaha Nasi Jamblang Cirebon Keluhkan Pasokan Daun Jati
Perkembangan usaha nasi jamblang di Kota dan Kabupaten Cirebon diwarnai perluasan layanan serta tantangan mempertahankan bahan baku daun jati.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Perkembangan usaha nasi jamblang di Kota dan Kabupaten Cirebon diwarnai perluasan layanan serta tantangan mempertahankan bahan baku daun jati.
Pembayaran digital telah digunakan pelaku usaha di Kota Cirebon, sementara pedagang di Kecamatan Jamblang Kabupaten Cirebon menghadapi kesulitan memperoleh daun jati saat kemarau.
Di Kabupaten Cirebon, kendala pasokan daun jati diungkapkan Ahmad salah satu pedagang nasi jamblang di Kecamatan Jamblang yang telah menjalankan usahanya lebih dari 10 tahun. Dia menyebut daun pembungkus nasi tersebut semakin sulit diperoleh.
“Daun jati itu harus ada. Tanpa daun jati, nasi jamblang seolah kehilangan identitasnya,” ujar Ahmad, Minggu (11/10/2026).
Ahmad biasanya mendapatkan daun jati melalui pedagang langganan di Pasar Jamblang. Ketika pasokan tidak tersedia, dia mencari alternatif dengan meminta daun kepada pemilik pohon jati di sekitar wilayahnya.
Hal senada dikatakan Endel, salah satu pedagang nasi jamblang yang tiap hari berjualan di lokasi GOR Ranggajati Sumber. Namun Endel mengaku tidak terlalu kesulitan mendapatkan pasokan daun jati. Namun pada beberapa moment tertentu, terkadang dia harus mencari pasokan daun jati karena penjual yang droping daun jati, kadang tidak datang.
"Kalau saya ada yang droping tiap hari untuk kebutuhan daun jati. Tapi terkadang saat saat tertentu daun tidak ada, terpaksa saya pontang panting cari ke tempat lain," aku Endel.
Sementara itu, perkembangan skala usaha terlihat pada Nasi Jamblang Ibad Otoy di Jalan Cipto Mangunkusumo, Kota Cirebon. Manajer rumah Wahyu, menjelaskan usahanya melalui tahapan dari lapak kaki lima hingga memiliki tempat permanen.
“Awal awal buka hanya ada sekitar 20 menu, sekarang sudah ada 50 variasi menu,” kata Wahyu.
Kondisi itu akunya, berimbas kepada jumlah karyawan yang semakin bertambah. Tercatat, dari dari dua orang sekarang menjadi 40 orang. Perubahan juga terjadi pada cara pembayaran, dengan sekitar 70 persen transaksi menggunakan mesin EDC dan QRIS, sedangkan sisanya dilakukan secara tunai.
Dia mengaku, Rumah makannya melayani rata-rata 300 porsi pada hari kerja dan mendekati 500 porsi saat akhir pekan. Angka tersebut menggambarkan aktivitas satu rumah makan saja, dan bukan keseluruhan penjualan nasi jamblang di Cirebon.
Upaya mempertahankan pelanggan juga dilakukan Nasi Jamblang Ibu Nur di Jalan Cangkring, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon. Pemilik sekaligus pengelolanya, Nur Wachid, menjelaskan pentingnya pelayanan, kebersihan, dan konsistensi produk dalam menjaga keberlangsungan usaha.
"Kami mempertahankan mutu bahan dan takaran bumbu meski harga bahan baku meningkat. Usaha ini kami rintis sejak 2007 dan sudah memiliki sertifikasi halal dan laik sehat," akunya.
Sementara itu, di Kabupaten Cirebon nasi jamblang tercantum sebagai produk wisata Desa Wisata Kota Tua Jamblang. Ini tercatat dalam portal Jadesta Kementerian Pariwisata.
Penyajian nasi dengan bungkus daun jati dan beragam pilihan lauk menjadi ciri yang ditawarkan kepada wisatawan.
Walaupun sejumlah usaha menunjukkan perkembangan layanan dan kapasitas, sumber yang ditelusuri belum menyediakan data terbaru mengenai jumlah seluruh pedagang maupun pertumbuhan omzet nasi jamblang di Kota dan Kabupaten Cirebon.
Tiga dinas yaitu Dinas Pariwisata, Dinas Koperasi serta Dinas Perdagangan dan perindustrian Kabupaten Cirebon, belum bisa memberikan data valid terkait perkembangan usaha nasi jamblang. Khususnya yang berhubungan dengan jumlah pedagang serta kebutuhan bahan baku berupa pembungkus daun jati.
Editor : Doni Ramdhani
