Pengelolaan Sampah Berbasis Wilayah Jadi Andalan Baru Kota Bandung

Pemkot Bandung menyiapkan ekosistem pengelolaan sampah mandiri di setiap wilayah. Bentuknya, pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah. 

Pengelolaan Sampah Berbasis Wilayah Jadi Andalan Baru Kota Bandung
Sejumlah petugas mengelola sampah anorganik di sebuah TPS di Kota Bandung. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Pemkot Bandung menyiapkan ekosistem pengelolaan sampah mandiri di setiap wilayah. Bentuknya, pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah. 

Program tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap TPA Sarimukti, sekaligus menekan volume sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.

Langkah tersebut menjadi respons atas pembatasan kuota di TPA Sarimukti dan tingginya produksi sampah Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.511 ton per hari. Pemkot Bandung menilai, sistem pengelolaan sampah perlu diarahkan lebih dekat dengan sumbernya sehingga tidak lagi bergantung pada pola lama kumpul, angkut dan buang.

Ketua Tim Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung Syahriani mengatakan, kondisi TPA Sarimukti menjadi momentum membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan. Penyelesaian persoalan sampah, harus dimulai dari rumah tangga dan lingkungan masing-masing agar beban TPA terus berkurang.

"Pembatasan kapasitas TPA menjadi pengingat, pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pengangkutan. Ke depan, setiap wilayah harus mampu mengolah sampahnya sendiri sedekat mungkin dengan sumbernya," kata Syahriani, Jumat (3/7/2026).

Saat ini sambung dia, Pemkot Bandung masih menginventarisasi lokasi yang akan dijadikan titik pengolahan sampah. Setiap lokasi nantinya harus memenuhi persyaratan teknis dan sosial mulai dari ketersediaan lahan, akses kendaraan operasional hingga tidak mengganggu lingkungan maupun fasilitas publik di sekitarnya.

Upaya tersebut, juga mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan bantuan teknologi refuse derived fuel (RDF) yang masih dalam tahap uji coba efektivitas. Sementara Mabes TNI AD, berencana memberikan bantuan mesin pengolahan sampah.

"Melalui sistem berbasis kewilayahan, sampah organik akan diolah menjadi kompos atau menggunakan teknologi pengolahan organik lainnya. Sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi, akan disalurkan melalui bank sampah dan mitra daur ulang. Sedangkan sampah bernilai rendah, akan diolah menjadi bahan bakar alternatif menggunakan teknologi RDF," ucapnya.

Syahriani menyampaikan, pembangunan ratusan titik pengolahan sampah bertujuan membangun sistem yang lebih mandiri sehingga sebagian besar sampah dapat diselesaikan di wilayah masing-masing. "Harapannya, setiap wilayah mampu mengolah sebagian besar sampahnya sendiri sehingga hanya residu yang dikirim ke TPA," ujar dia.

Melalui program tersebut, DLH Kota Bandung menargetkan pengurangan sampah sebesar 125 hingga 250 ton per hari. Namun demikian ditambahkannya, keberhasilan target bergantung pada dukungan teknologi sekaligus perubahan perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari sumber.


Editor : Doni Ramdhani