Penjual Kaset Cihapit, Dikunjungi Warga Jepang, Belanda, hingga Amerika

Sekitar delapan ribu kaset atau pita kaset terpajang rapi, baik, teratur, bersih serta apik di pajang di setiap rak-nya. Mulai dari genre rock, pop, british, keroncong, hingga dangdut dan lainnya.

Penjual Kaset Cihapit, Dikunjungi Warga Jepang, Belanda, hingga Amerika
Salah satu penjual kaset di Jalan Cihapit, Kota Badung. (okky adiana)

INILAH, Bandung - Sekitar delapan ribu kaset atau pita kaset terpajang rapi, baik, teratur, bersih serta apik di pajang di setiap rak-nya. Mulai dari genre rock, pop, british, keroncong, hingga dangdut dan lainnya.

Compact Cassette, yang biasa disebut kaset, pita kaset, atau tape adalah media penyimpan data yang umumnya berupa lagu. Berasal dari bahasa Prancis, yakni cassette yang berarti "kotak kecil". Kaset berupa pita magnetik yang mampu merekam data dengan format suara.

Dari tahun 1970 sampai 1990-an, kaset merupakan salah satu format media yang paling umum digunakan dalam industri musik.

Kaset terdiri dari kumparan-kumparan kecil. Kumparan-kumparan dan bagian-bagian lainnya ini terbungkus dalam bungkus plastik berbentuk kotak kecil berbentuk persegi panjang. Di dalamnya terdapat sepasang roda putaran untuk pita magnet.

Pita ini akan berputar dan menggulung ketika kaset dimainkan atau merekam. Ketika pita bergerak ke salah satu arah dan yang lainnya bergerak ke arah yang lain. Hal ini membuat kaset dapat dimainkan atau merekam di kedua sisinya. Contohnya, side A dan side B.

Ya, kini para pemburu kaset pita ini, mungkin sedikit kebingungan, dikarenakan kaset pita ini telah tergerus oleh zaman. Kendati begitu, tidak semua para kolektor kaset ini merasa sulit, mereka bisa mencari di beberapa lapak kaset pita di Kota Bandung, salah satunya adalah di Jalan Cihapit, Kota Bandung atau yang biasa disebut dengan Cihapit Records.

"Kapungkur mah didieu ngajajar (kaset), ngan ancurna ku MP3. (Dulu di sini banyak kaset, tapi hancurnya sama MP3). Tahun 1990 mah perputaran masih cepat, masuk sekitar 2012 sedikit sulit. Yang tersisa di Jalan Cihapit hanya empat kios lapak kaset," ujar Pemilik Lapak Kaset Cihapit Records, Jejen, di Jalan Cihapit, Kota Bandung, Jumat (2/4/2021).

Pada awalnya, sekira 1987, orang tua Jejen membuka lapak kaset ini, kemudian diteruskan oleh sang anak yakni Jejen pada 2008 lalu hingga saat ini. Pengunjungnya pun sangat beragam, selain anak muda Indonesia, ada juga orang luar negeri. Seperti, Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan lainnya. Biasanya orang luar negeri datang ke Indonesia mencari lagu-lagu tradisional.

Selain itu, menurut dia, dalam kondisi pandemi Covid-19 hanya meraup keuntungan 50 persen saja, hanya disiasati oleh jualan secara online.

"Saya jual kaset dari lima ribu sampai ratusan ribu. Yang paling besar satu juta, nama kasetnya Guruh Gipsy, kalau ada selongsongnya dan lengkap laku satu juta, kalau nggak ada selongsongnya paling 250 ribu sampai 500 ribu," ucap Jejen.

Guruh Gipsy adalah sebuah nama judul album eksperimental, yang merupakan proyek kolaborasi antara Guruh Soekarnoputra dengan grup musik Gipsy. Meskipun hanya sempat merilis satu album, tetapi proyek kolaborasi tersebut menjadi sangat penting peranannya dalam dunia musik Indonesia.

Jejen menyebutkan, beberapa kaset pita yang banyak dicari adalah band-band lokal. Seperti, Pure Saturday, Kubik, Rumah Sakit, Payung Teduh, White Shoes and Couples Company dan lainnya.

"Soalnya dia (band) nya lebih original. Kubik paling besar harganya 200 ribu, kalau kondisinya bagus. White Shoes and Couples Company 300 ribu," imbuh Jejen.

Selain di Jalan Cihapit, lapak toko kaset pita ini bisa dijumpai di Jalan Dipatiukur, Astana Anyar, Dewi Sartika Bandung. (okky adiana)


Editor : suroprapanca