Presiden Terus Melakukan Reshuffle, Pengamat UGM: Masyarakat Jangan Dibiarkan Menebak
PengamatUGM menilai pemerintah jangan membuat masyarakat terus menebak dengan adanya reshuffle yang terus dilakukan Presiden.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Presiden Prabowo Subianto kini kembali melakukan round up dan Reshuffle untuk yang ke 7 kalinya selama masa jabatan 2 tahun.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito menilai perombakan kabinet (reshuffle) oleh Presiden seharusnya tidak sekadar menata posisi pejabat, tetapi mampu menjawab persoalan riil dan harapan masyarakat.
“Kalau presiden melakukan 'reshuffle', tentu harus tidak hanya sekadar bicara tentang penataan orang, tetapi lebih dari sekadar itu menghubungkan antara problem dan harapan publik,” tutur Arie Sujito.
Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni itu mencermati perombakan kabinet belakangan ini.
Di mana reshuffle yang teru menerus belum memberikan sinyal atau lompatan besar yang mampu menjawab tuntutan maupun kekhawatiran masyarakat luas.
Dia menyatakan publik masih memantau efektivitas perombakan sejumlah posisi menteri maupun pejabat tinggi negara, termasuk pergantian Kapolri dan pergeseran di jajaran kementerian.
“Orang berspekulasi apakah ada tanda-tanda bersih-bersih dan sebagainya. Tetapi yang perlu kita lihat adalah apakah ada gebrakan baru, serta apakah 'reshuffle' ini terhubung dengan problem yang menjadi tuntutan publik selama ini,” jelas Arie.
Arie menambahkan perombakan kabinet semestinya menjadi instrumen untuk memperbaiki kebijakan publik secara mendasar, bukan justru memicu spekulasi atau menghadirkan teka-teki baru di tengah masyarakat.
“Masyarakat jangan dibiarkan menebak-nebak. Diskursus publik mengenai krisis dan kekhawatiran mestinya dijawab secara konkret dengan kebijakan yang berdampak signifikan,” terangnya.***
Editor : Irma Nurfajri

