PSEL Legok Nangka Olah 2.131 Ton Sampah per Hari, Target Operasi 2030

Dedi Mulyadi membahas kelanjutan PSEL Legok Nangka senilai Rp7,4 triliun bersama Sumitomo Corporation. Proyek ditargetkan beroperasi pada 2029 atau 2030.

PSEL Legok Nangka Olah 2.131 Ton Sampah per Hari, Target Operasi 2030
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

INILAHKORAN.ID – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali membahas kelanjutan pembangunan Pengolahan Sampah menjadi energi listrik (PSEL) Legok Nangka bersama investor asal Jepang, Sumitomo Corporation, Jumat (9/10/2026).

Pertemuan tersebut dilakukan setelah proyek senilai Rp7,4 triliun itu memasuki tahap pembangunan melalui peletakan batu pertama pada 29 Juli 2026. Pembahasan lanjutan diperlukan untuk mendorong realisasi fasilitas pengolahan sampah regional yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2029 atau awal 2030.

"Betul, kita rapat membahas persiapan lanjutan pembangunan Legok Nangka," ujar Dedi, Jumat (9/10/2026).

Dedi menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah bertemu dengan investor dan berkomitmen melanjutkan pembangunan fasilitas yang berlokasi di Kabupaten Bandung tersebut.

“Ini kita sudah bertemu dengan salah satu investor yang membangun pembangkit listrik tenaga sampah di Legok Nangka. Kita sudah berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan,” ucapnya.

PSEL Legok Nangka Tangani Sampah Enam Daerah

PSEL Legok Nangka dirancang untuk membantu mengatasi persoalan sampah di enam daerah, yakni Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang.

Sampah dari wilayah tersebut nantinya akan diolah menjadi energi listrik melalui teknologi waste-to-energy. Dengan skema ini, sampah tidak hanya ditangani sebagai limbah, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber energi.

“Nanti masyarakat Bandung, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, Garut, Sumedang, sampahnya diproduksi menjadi listrik di Legok Nangka dan ini yang punya modalnya,” katanya.

Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan dapat mengurangi beban penanganan sampah di Bandung Raya dan daerah sekitarnya. Selama ini, penanganan sampah regional masih bergantung pada tempat pemrosesan akhir (TPA), termasuk TPA Sarimukti.

Melalui pengolahan sampah menjadi energi listrik, proyek Legok Nangka diarahkan untuk mendukung sistem penanganan sampah lintas daerah secara lebih terintegrasi.

Investasi PSEL Legok Nangka Capai Rp7,4 Triliun

Proyek PSEL Legok Nangka memiliki nilai investasi sekitar Rp7,4 triliun. Pendanaan proyek ini mencakup sekitar Rp5 triliun dari investor, hibah Pemerintah Pusat sebesar Rp2 triliun, serta hibah Pemerintah Belanda senilai Rp350 miliar.

Fasilitas tersebut dirancang untuk mengolah hingga 2.131 ton sampah per hari, dengan kapasitas produksi listrik yang ditargetkan mencapai 40,79 megawatt (MW).

Dalam pelaksanaannya, Sumitomo Corporation tergabung dalam konsorsium PT Jabar Environmental Solutions (JES) bersama EPN, Kanadevia, dan Kyuden. Konsorsium tersebut menjadi badan usaha pelaksana proyek dengan skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).

Sementara itu, Pemprov Jabar bertindak sebagai Penanggung Jawab Proyek Kerja Sama (PJPK).

Besarnya kapasitas pengolahan sampah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi tekanan terhadap fasilitas pembuangan akhir sekaligus menghasilkan energi listrik dari sampah yang berasal dari sejumlah daerah.

PSEL Legok Nangka Ditargetkan Beroperasi Akhir 2029

Pembangunan PSEL Legok Nangka diperkirakan membutuhkan waktu konstruksi sekitar 41 bulan. Fasilitas ini ditargetkan mencapai commercial operation date (COD) pada kuartal IV 2029 atau kuartal I 2030.

Peletakan batu pertama proyek sebelumnya dilakukan Dedi Mulyadi bersama Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, pada 29 Juli 2026.

Pertemuan dengan Sumitomo Corporation menjadi bagian dari upaya melanjutkan tahapan proyek setelah seremoni tersebut. Pemprov Jabar berharap pembangunan berjalan sesuai rencana sehingga fasilitas pengolahan sampah berkapasitas besar itu dapat beroperasi sesuai target.

Realisasi PSEL Legok Nangka akan menjadi salah satu langkah dalam penanganan sampah lintas daerah di Jawa Barat, dengan mengintegrasikan pengolahan limbah dan produksi energi listrik.***


Editor : JakaPermana