Satu Desa Hilang, 350 Rumah Rata dengan Tanah Usai Banjir dan Longsor di Aceh Utara
Satu desa dan ratusan rumah nyaris rata dengan tanah pasca banjir dan longsor di Aceh Utara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh Utara meninggalkan kerusakan luar biasa. Sekitar 350 rumah di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, dilaporkan hilang atau rata dengan tanah, menyisakan hanya 41 unit yang masih terlihat bekasnya.
Anggota DPD RI asal Aceh, Sudirman atau Haji Uma, yang meninjau langsung lokasi, menggambarkan situasi desa tersebut sebagai “nyaris hilang dari peta”. Selain kerusakan fisik, enam warga masih dinyatakan hilang, dan hingga kini belum ditemukan.
“Saya melihat sendiri kondisi Desa Geudumbak. Dari hampir 400 rumah, hanya 41 yang masih tampak sisa-sisanya. Ini kerusakan yang sangat parah dan menjadi peringatan keras bagi pemerintah,” kata Haji Uma, Sabtu (6/12).
Menurutnya, dampak bencana tidak hanya sebatas kerusakan rumah. Listrik padam, akses jalan terputus, air bersih tidak tersedia, dan pengungsi mengalami kekurangan tenda darurat. Sebagian warga bahkan mulai mengalami gatal-gatal karena terpaksa menggunakan air yang tidak layak.
Lebih dari 400 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa terdampak bencana ini. Haji Uma menilai pemulihan kondisi desa membutuhkan waktu panjang.
“Untuk membangun kembali desa ini seperti semula, saya perkirakan butuh waktu hingga 10 tahun,” ujarnya.
Melihat luasnya kerusakan yang terjadi di berbagai wilayah Aceh, Haji Uma mendesak pemerintah pusat menetapkan status bencana nasional untuk Aceh dan Sumatra secara keseluruhan.
“Hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh terdampak. Kerusakan terjadi pada permukiman, jalan nasional, jembatan, hingga pusat ekonomi. Menurut saya, ini sudah saatnya ditetapkan sebagai bencana nasional sesuai amanat UU Nomor 24 Tahun 2007 dan PP Nomor 22 Tahun 2008,” tegasnya.
Ia berharap penetapan status tersebut dapat mempercepat mobilisasi bantuan dan memastikan pemenuhan hak-hak para penyintas bencana.
Editor : Firda Rachmawati
