Senyum yang Semakin Memudar

Senyum yang Semakin Memudar
Net

SENYUM Jurgen Klopp kian memudar usai Jerman kembali meraih hasil imbang. Kali ini, mereka tak mampu menaklukkan Yunani di Toumba Stadium, Senin (5/10) dini hari WIB.

Klopp berdiri di pinggir lapangan Stadion Toumba, Thessaloniki, dengan topi yang ditarik sedikit lebih rendah dan tangan yang terbenam dalam di saku jaketnya.

Peluit panjang baru saja ditiup, menandai skor kacamata 0-0 antara Jerman dan Yunani pada laga lanjutan UEFA Nations League.

Alih-alih senyum lebar ikonik atau tinju ke udara khas miliknya, malam itu Klopp hanya menatap kosong ke rumput hijau.

Ada riak kekecewaan yang mendalam di wajahnya—bukan kemarahan yang meledakledak, melainkan sebuah realitas pahit dari proses yang ternyata berjalan jauh lebih lambat dari harapannya.

Bagi seorang Klopp, yang baru saja memulai era baru bersama Die Mannschaft, jeda internasional ini harusnya menjadi panggung pembuktian setelah mereka sempat dipermalukan 0-1 oleh Yunani di kandang sendiri.

Setelah sempat bangkit menekuk Serbia 2-0, laga di Thessaloniki ini dirancang sebagai misi balas dendam sekaligus pembuktian bahwa mesin barunya telah panas. Namun, tembok pertahanan Yunani malam itu kembali menjadi mimpi buruk yang tak kasat mata.

Saat gol Jonathan Burkardt di menit ke- 32 dianulir oleh VAR karena handball, Klopp tampak membalikkan badan dengan senyum kecut, seolah tahu bahwa keberuntungan sedang enggan berpihak padanya malam itu.

Sepanjang babak kedua, ia terus berteriak di area teknis, mencoba menyuntikkan energi “Heavy Metal” yang menjadi cirinya ke dalam diri Florian Wirtz dan kawan-kawan.

Namun, hingga peluit akhir berbunyi, dominasi Jerman tetap buntu.

“Hasil imbang di pertandingan seperti ini memang bisa diterima dalam sepak bola, tapi melihat bagaimana kami mendominasi, rasanya tetap saja pahit,” ujar Klopp dalam wawancara .

Di balik topeng ketegarannya yang menyebut laga ini sebagai “bagian dari proses”, tersirat beban berat seorang pelatih yang memikul ekspektasi jutaan publik Jerman yang merindukan kejayaan seketika.

Malam itu, Klopp pulang ke ruang ganti bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai seorang arsitek yang sadar bahwa fondasi tim barunya masih butuh banyak semen dan keringat untuk bisa kembali tegak di Eropa.

“Permainan kami sempat agak goyah saat memasuki menit ke-60, sehingga pergerakan kami kehilangan ketajaman.

Namun, kami baru saja bertanding tiga hari yang lalu-sulit untuk mempertahankan tempo seperti itu selama 90 menit penuh saat menghadapi tim Yunani yang tangguh.

Strategi (counter-pressing) kami berjalan sangat baik dalam 90% situasi.

Masalahnya, pada 10% sisanya saat strategi itu tidak berjalan lancar, situasinya bisa menjadi cukup berbahaya,” pungkasnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran