Sepanjang November 2025, Jawa Barat Diterjang Ratusan Gempa dan Jutaan Petir

Aktivitas alam di Jawa Barat pada November 2025 menunjukkan peningkatan yang perlu diwaspadai. BMKG Stasiun Geofisika Bandung mencatat lebih dari satu juta sambaran petir dan ratusan guncangan gempa yang terjadi di wilayah tersebut hanya dalam 30 hari.

Sepanjang November 2025, Jawa Barat Diterjang Ratusan Gempa dan Jutaan Petir

INILAHKORAN.ID - Aktivitas alam di Jawa Barat pada November 2025 menunjukkan peningkatan yang perlu diwaspadai. BMKG Stasiun Geofisika Bandung mencatat lebih dari satu juta sambaran petir dan ratusan guncangan gempa yang terjadi di wilayah tersebut hanya dalam 30 hari.

Data BMKG menyebutkan, sepanjang November 2025, terjadi 108 gempa bumi di Jabar dan sekitarnya. Mayoritas merupakan gempa dangkal yang berpotensi memberikan guncangan signifikan di permukaan. 

Delapan gempa di antaranya dirasakan warga, termasuk gempa M3,4 pada 20 November yang menggoyang wilayah Kabupaten Bandung serta sejumlah kecamatan di sekitarnya.

Pada periode yang sama, 1.020.379 sambaran petir terekam di Jawa Barat. Lonjakan aktivitas terjadi pada pekan pertama November dengan 435.384 kejadian dalam sepekan saja. Kabupaten Sumedang, Cianjur, dan Garut menjadi wilayah yang paling banyak tersambar petir.

Peningkatan aktivitas gempa dan petir ini dinilai BMKG sebagai indikasi dinamika atmosfer dan tektonik yang masih aktif di Jawa Barat — kawasan yang dikenal berada di jalur sesar aktif serta sering mengalami cuaca ekstrem.

“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada namun tidak panik. Pastikan memantau informasi resmi BMKG,” kata Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, dalam keterangannya, Senin  1 Desember 2025,

BMKG juga mengingatkan warga untuk menghindari bangunan yang rusak setelah gempa dan selalu mencari tempat aman saat terjadi badai petir. Pemerintah daerah diminta memperkuat mitigasi bencana terutama di wilayah padat penduduk.

Pakar kebencanaan menilai tren ini menjadi sinyal bahwa Jawa Barat masih memiliki potensi ancaman bencana berulang, dari guncangan gempa hingga cuaca ekstrem yang dapat memicu banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur.

Kesadaran masyarakat terhadap langkah penyelamatan dini menjadi kunci penting dalam mengurangi risiko korban jiwa jika aktivitas alam kembali meningkat dalam waktu dekat.


Editor : Ahmad Sayuti