Shelter Dadaha Bakal Disulap Jadi Recreation Center, PKL Siapkan Konsep Kuliner
Shelter Dadaha Tasikmalaya disiapkan menjadi Recreation Center dengan konsep kuliner khas PKL. Sekitar 70 pedagang sudah terdaftar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Kecil dan Mikro (PPKM) Dadaha mulai secara mandiri menempati tempat baru di kawasan Shelter Dadaha, Kota Tasikmalaya.
Syukuran menempati lokasi baru tersebut digelar pada Rabu, 7 Oktober 2026, dan dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra didampingi Kepala Disporabidpar Kota Tasikmalaya Deddy Mulyana.
Ketua Pengelola Shelter Dadaha, Ana Nuryana, mengatakan kawasan tersebut ke depan tidak hanya akan menjadi tempat berjualan bagi PKL.
Pihaknya berencana mengembangkan Shelter Dadaha menjadi kawasan yang mampu menarik keramaian dan kunjungan masyarakat. Konsep tersebut akan dikembangkan dengan nama Shelter Recreation Center.
"Bagaimana saya memajukan shelter, intinya, para PKL itu mengejar keramaian, seakan merubah, kita harus membuat keramaian, tempat ini dikunjungi," kata Ana.
Shelter Dadaha Disiapkan Jadi Kawasan Kuliner
Ana mengatakan selama ini kawasan Shelter Dadaha belum dikelola secara maksimal sehingga terlihat kurang terawat dan minim aktivitas.
Karena itu, pengelola ingin menghadirkan suasana baru yang lebih menarik agar masyarakat memiliki alasan untuk berkunjung.
"Selama ini memang seakan terbengkalai karena tidak ada orang yang mengelola yang punya jiwa entertain, itu mungkin kelemahannya," ujarnya.
Konsep yang disiapkan akan mengarah pada suasana kafe dengan menawarkan beragam jajanan khas PKL dengan harga terjangkau.
"Konsepnya tetap kita lebih mengarah ke nuansa caffe, dengan jajanan yang sangat murah, jajanan PKL, itupun saya akan memfilter jajanan yang memang ciri khas," katanya.
Menurut Ana, makanan yang dijual nantinya diharapkan memiliki ciri khas tersendiri sehingga Shelter Dadaha mempunyai daya tarik kuliner yang berbeda.
"Ketika orang berkunjung ke shelter itu ada tujuannya, apakah misalkan nasi bakarnya, gudegnya dan lain lain, yang jelas bukan menu umum," ujar Ana.
Sekitar 70 Pedagang Sudah Terdaftar
Saat ini, kata Ana, terdapat sekitar 70 pedagang yang telah terdaftar untuk berjualan di kawasan Shelter Dadaha.
Sementara jumlah lapak yang telah terisi disebut mencapai sekitar 80-an, termasuk pedagang yang sebelumnya merupakan penghuni bawaan dari UPTD.
Ana berharap pengelolaan Shelter Dadaha ke depan dapat dilakukan melalui kolaborasi antara pedagang, pemerintah dan berbagai pihak lainnya.
Menurutnya, pemerintah memiliki peran dalam menyediakan fasilitas, sedangkan pengelolaan dan pengembangan kawasan membutuhkan pihak yang secara khusus menjalankannya.
"Insyaallah saya akan berusaha seperti itu, kalau pemerintah kan hanya menyediakan fasilitas, tapi tidak untuk mengelola. Selama ini pemerintah belum menunjuk, siapa, apakah kami akan legitimasi untuk mengelola, hayu.., kita bisa bekerjasama, bisa berkolaborasi," ujarnya.
Kondisi Shelter Jadi Perhatian
Selain konsep pengelolaan, kondisi fisik Shelter Dadaha juga menjadi perhatian.
Ana menilai kawasan tersebut sudah lama kurang terawat dan terlihat kumuh. Perbaikan fasilitas pun dinilai diperlukan agar kawasan tersebut lebih nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.
"Ini kan sudah lama terbengkalai dan terlihat kumuh. Insyaallah kemarin ada kesanggupan dari UPTD untuk memperbaiki talang," katanya.
Untuk mendukung pengembangan kawasan, pengelola tidak hanya mengandalkan dukungan dari pemerintah.
Pihaknya juga berencana menggandeng perusahaan swasta maupun BUMN melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
"nanti mungkin saya juga akan berusaha kerjasama dengan BUMN, kita mencari dana CSR. Kita nyari sponsor untuk memajukan shelter ini agar PKL tidak terlalu mengeluarkan biaya," kata Ana.
Ana berharap pengembangan Shelter Dadaha dapat memberikan ruang usaha yang lebih baik bagi para PKL sekaligus menciptakan kawasan kuliner yang memiliki daya tarik bagi masyarakat Kota Tasikmalaya.
Dengan konsep Shelter Recreation Center, kawasan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat berdagang, tetapi juga ruang berkumpul dan rekreasi masyarakat.***
Editor : JakaPermana

