PKL Dadaha Siap Ditata, Tapi Minta Relokasi Tak Matikan Usaha

Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sekitar jogging track Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, mendapat perhatian dari para pedagang.

PKL Dadaha Siap Ditata, Tapi Minta Relokasi Tak Matikan Usaha
para pedagang kaki lima di dadaha meminta pemerintah tidak sekadar menertibkan, tetapi menyediakan lokasi relokasi yang jelas dan tidak mematikan usaha.

INILAHKORAN.ID-Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Jogging track Kompleks Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, mendapat perhatian dari para pedagang. Mereka meminta pemerintah tidak sekadar menertibkan, tetapi menyediakan lokasi relokasi yang jelas dan tidak mematikan usaha.


Penertiban dilakukan Tim Penataan Kompleks Olahraga Dadaha, Rabu (26/8/2026). Petugas mengangkut sejumlah lapak dan material pedagang yang berada di sekitar Jogging track dekat Benteng Stadion Wiradadaha.


Ketua Paguyuban Pedagang Kecil dan Mikro (PPKM) Kota Tasikmalaya, H Ana Nuryana, mengatakan pihaknya tidak menolak penataan kawasan Dadaha. Namun, pedagang meminta pemerintah menempatkan mereka di lokasi yang layak.


“Ditata direlokasi, tempatkan kami sebagai manusia, karena seperti halnya kita membuang sampah harus pada tempatnya, jangan buang sampah sembarangan, itu yang akan menjadi masalah,” kata Ana.


Menurutnya, jumlah pedagang yang tergabung dalam komunitas yang mereka bentuk mencapai sekitar 180 orang atau hampir 200 pedagang.


“Komunitas kemarin yang kami bentuk itu ada 180-an, hampir 200 lah,” ujarnya.


Ana mengatakan hingga saat ini belum ada kepastian mengenai lokasi yang akan digunakan sebagai tempat relokasi pedagang.


“Belum ada alternatif penempatan, masih kita bicarakan, masih kita godok dan masih perlu negosiasi,” katanya.


Ia meminta pemerintah terlebih dahulu membuka site plan atau rencana penataan kawasan sebelum menentukan lokasi bagi para pedagang.


“Kita tidak bisa memplot, pemerintah pasti punya site plan, kita harus tahu dulu site plan-nya, kita ini di mana diletakkannya, jadi kita mungkin negosiasi baik buruk dari relokasi itu,” ujarnya.


Ana mengingatkan, penempatan pedagang di satu titik belum tentu membuat usaha mereka bertahan. Menurutnya, lokasi menjadi faktor penting karena pedagang bergantung pada keramaian pengunjung.


“Biasanya pemerintah menempatkan di satu titik, tapi akhirnya mematikan, seperti shelter, shelter kan tidak jalan, tetap saja yang namanya pedagang mencari kerumunan orang,” katanya.


Karena itu, ia meminta pemerintah menyediakan lokasi yang benar-benar dapat mendukung keberlangsungan usaha pedagang.


“Kami mohon kepada pemerintah karena ini urusan perut, tolong lokasikan yang jelas, di mana ditempatkan, terutama pedagang yang hanya menggunakan meja, toh kami tidak membutuhkan bangunan. Hanya membutuhkan tempat yang bisa dikunjungi oleh pengunjung,” ujarnya.


Sebelumnya, Ketua Tim Penataan Kompleks Olahraga Dadaha, Asep MP, menyebut pemerintah memang tengah menyiapkan rencana pemindahan pedagang menjauh dari ruang olahraga. Namun, lokasi tersebut belum dilaporkan kepada Wali Kota Tasikmalaya.


Pemerintah juga menyatakan penataan dilakukan untuk mengembalikan fungsi Dadaha sebagai sarana olahraga, sekaligus tetap memperhatikan keberlangsungan kegiatan ekonomi masyarakat.


Dengan kondisi tersebut, pedagang berharap proses penataan dan relokasi dilakukan melalui komunikasi serta negosiasi agar solusi yang dihasilkan tidak merugikan para pedagang.***


Editor : JakaPermana