Pembacokan Maut di Tasikmalaya, Pelaku Tersulut Emosi Usai Melihat Ayahnya Lebam
Kasus penganiayaan hingga menyebabkan seorang pria tewas terjadi di Kampung Ciaren, RT 10/RW 10, Desa/Kec Karangjaya, Kab Tasikmalaya, Rabu (19/8/2026).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kasus penganiayaan hingga menyebabkan seorang pria tewas terjadi di Kampung Ciaren, RT 10/RW 10, Desa Karangjaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (19/8/2026).
Jenazah korban tiba di Kamar Mayat RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya sekitar pukul 12.45 WIB setelah dievakuasi langsung dari lokasi kejadian menggunakan ambulans rumah sakit.
Setibanya di kamar mayat, jenazah yang masih berada di dalam kantong mayat kemudian dipindahkan petugas ke ruang tindakan.
Petugas Kamar Mayat RSUD dr Soekardjo Dona Dermawan membenarkan adanya luka pada tubuh korban. Namun, dia tidak dapat menjelaskan secara rinci jenis maupun lokasi luka karena hal tersebut menjadi kewenangan kepolisian.
“Kalau luka memang ada, tetapi kami tidak bisa menyampaikan secara detail karena itu sepenuhnya kewenangan pihak kepolisian,” ujar Dona di RSUD dr Soekardjo, Rabu, (19/8/2026) siang.
Berdasarkan keterangan Ketua RT 10 Nanang Nurhidayat, peristiwa tersebut diduga berawal dari cekcok antara korban dengan Sanusi, yang merupakan ayah dari terduga pelaku.
Keduanya kemudian terlibat perkelahian hingga Sanusi mengalami luka lebam pada bagian wajah.
“Mulanya sempat cekcok antara korban dengan ayah terduga pelaku, terjadi perkelahian hingga membuat ayah pelaku mengalami luka lebam di bagian wajah,” kata Nanang.
Melihat kondisi ayahnya, terduga pelaku berinisial E alias Ayi (30) diduga tersulut emosi. Ia kemudian mengejar korban dan melakukan penganiayaan menggunakan senjata tajam jenis bedog atau golok.
“Tak terima ayahnya mengalami luka, pelaku mengejar korban dan membacoknya,” ujar Nanang.
Nanang mengatakan, aksi tersebut diduga dilatarbelakangi emosi dan rasa iba pelaku setelah melihat kondisi orang tuanya.
Menurutnya, E merupakan seorang pengusaha tahu bulat. Dalam kesehariannya, E dikenal biasa saja dan jarang pulang ke kampung karena tinggal di Bandung.
“Pelaku biasa saja kesehariannya, tapi jarang pulang karena tinggal di Bandung,” katanya.
E diketahui sedang berada di kampung karena pulang untuk mengikuti kegiatan dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan RI.
“Pulang karena ada acara Agustusan,” ujar Nanang.
Nanang menyebut, hubungan antara orang tua korban dan orang tua terduga pelaku saling mengenal.
“Keduanya dekat dan saling kenal,” katanya.
Meski terjadi penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia, situasi di lingkungan kampung disebut tetap kondusif.
“Alhamdulillah sejauh ini masih kondusif,” ujar Nanang.
Nanang juga menyebut terduga pelaku tidak melarikan diri setelah kejadian. Bahkan, pelaku disebut masih berada di lokasi dan berencana menyerahkan diri kepada polisi.
“Enggak lari, dia ada di lokasi, bahkan mau ada rencana menyerahkan diri ke Polsek,” katanya.
Sementara itu, Kapolsek Karangjaya Iptu Saptaji mengatakan ketika polisi tiba di lokasi, kondisi sudah relatif terkendali. Saat itu, terduga pelaku masih berada di sekitar lokasi bersama kedua orang tuanya.
“Di TKP tak ada orang lagi, kecuali ada pelaku sama ayah dan ibunya,” kata Saptaji.
Saptaji menjelaskan, informasi mengenai perkelahian antara Sanusi dan korban kemudian disampaikan kepada E oleh istrinya. E lalu datang ke lokasi dengan membawa senjata tajam.
“Terus istrinya nyamperin ngasih tahu ke anaknya. Pokoknya anaknya datang bawa bedog (golok),” ujarnya.
Korban kemudian terkapar setelah mengalami penganiayaan. Terduga pelaku bersama orang tuanya disebut masih berada di sekitar lokasi dan tidak langsung meninggalkan tempat kejadian.
Bahkan, saat polisi datang, terduga pelaku menyerahkan senjata tajam yang diduga digunakan dalam penganiayaan tersebut.
“Sudah terkapar, sama mereka masih ditungguin, mereka enggak pada pergi. Begitu saya datang juga goloknya diberikan sama saya. Sadar banget, bahkan pas golok diberikan dia bilang enggak akan ke mana-mana, akan nyerahin diri ke Polsek,” tutur Saptaji.
Petugas kemudian menghubungi anggota yang sedang piket. Setelah itu, personel Polres Tasikmalaya Kota datang untuk mengamankan dan membawa terduga pelaku menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
“Terus menghubungi anggota yang piket, lalu dijemput. Terus datang Pamapta dari Polres, terus dibawa ke Tasik,” katanya.
Jarak rumah korban dan rumah terduga pelaku disebut sekitar 200 meter. Polisi memastikan kondisi lingkungan setelah kejadian tetap kondusif.
Sementara itu, identitas korban masih dalam proses pendataan dan pendalaman petugas. Berdasarkan informasi sementara, korban diketahui bernama Tata Hendro alias Ki Danu.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan kronologi lengkap, motif, serta peran masing-masing pihak dalam peristiwa penganiayaan yang berujung maut tersebut.
Editor : Doni Ramdhani

