SIKAP KAMI: Kriminalitas Berjubah Rivalitas
Penyerangan brutal terhadap bus rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung di Rest Area Batang KM 368, Jawa Tengah adalah kriminalitas berbalut rivalitas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
penyerangan brutal terhadap bus rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung di Rest Area Batang KM 368, Jawa Tengah tak bisa lagi dipandang sebagai urusan rivalitas. Ini murni kriminalitas!
Batu-batu dilemparkan, koper-koper dijarah, belum lagi ofisial tim dianiaya secara brutal, bukankah ini cermin terburuk dari sisi gelap sepak bola di Indonesia?
Makin miris, lantaran fakta bahwa yang jadi korban kebrutalan ini merupakan talenta-talenta muda yang hendak meniti karier menuju profesional. Sama sekali tak pantas, mereka mendapati sebuah teror mental dan fisik yang begitu traumatik.
Maka, sudah terlalu sering kita berlindung di balik kata "oknum" untuk menoleransi kebrutalan antarkelompok suporter. Pertemuan tak sengaja antara rombongan EPA Persib dan kelompok suporter lain yang baru pulang mengawal timnya dari Yogyakarta ini membuka tabir bahwa dendam kesumat telah membutakan akal sehat.
Bagaimana mungkin area fasilitas umum seperti rest area jalan tol, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pengguna jalan, berubah menjadi medan penjarahan dan kekerasan massal?
Aksi pemecahan kaca bus dan perampasan koper milik para pemain muda ini tidak bisa lagi dikategorikan sebagai friksi antarsuporter; ini adalah tindakan kriminalitas murni dan premanisme jalanan yang bermotif kebencian buta.
Jika gesekan suporter senior di level liga utama kerap dianggap "bumbu panas" kompetisi, membawa api permusuhan itu ke tingkat pembinaan usia muda adalah racun yang mematikan. Kita sedang mempertontonkan kepada generasi muda sepak bola bahwa lapangan hijau di Indonesia dikelilingi oleh lingkungan yang tidak aman dan penuh ancaman.
PSSI dan operator liga tidak boleh cuci tangan dengan alasan insiden terjadi di luar stadion. Komite Disiplin harus berani mengambil langkah progresif.
Jika pelaku terbukti terafiliasi secara terorganisasi dengan basis suporter klub tertentu, maka klub yang bersangkutan harus ikut memikul tanggung jawab moral dan formal—baik dalam bentuk sanksi disiplin berat maupun pengurangan poin.
Catat baik-baik: klub wajib mendidik pendukungnya agar kedewasaan tidak hanya menjadi slogan di atas kertas!
Sepak bola Indonesia saat ini sedang berupaya keras membangun reputasi internasional melalui prestasi tim nasional. Namun, fondasi kokoh yang sedang dibangun akan runtuh seketika jika ekosistem domestiknya masih digerogoti oleh kultur kekerasan yang barbar.
Tragedi Batang harus menjadi titik balik terakhir. Jika kita terus membiarkan anak-anak muda kita diteror oleh kebrutalan di luar lapangan, maka sadar atau tidak, kita sedang membunuh masa depan sepak bola Indonesia dengan tangan kita sendiri.***
Editor : Bsafaat
