SMP IT Insantama bersama IPB University Gelar Talkshow Literasi Cuaca dan Iklim, Pasang AWS di Sekolah untuk Prediksi Cuaca

SMP IT Insantama Kota Bogor bekerja sama dengan Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) FMIPA IPB University mengadakan talkshow edukatif bertemakan Literasi Cuaca dan Iklim untuk Bumi Lestari di Auditorium SIT Insantama, Kecamatan Bogor Barat pada Senin 27 Oktober 2025. 

SMP IT Insantama bersama IPB University Gelar Talkshow Literasi Cuaca dan Iklim, Pasang AWS di Sekolah untuk Prediksi Cuaca
Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMP IT Insantama M Iqbal Maulidi memaparkan, pihaknya bersama departemen GFM FMIPA IPB University mengadakan talkshow edukatif bertemakan literasi cuaca dan iklim untuk Bumi Lestari yang diikuti seluruh siswa SMP IT Insantama, perwakilan orang tua siswa, dan para tamu undangan. (rizki mauludi)

INILAHKORAN, Bogor - SMP IT Insantama Kota Bogor bekerja sama dengan Departemen Geofisika dan Meteorologi (GFM) FMIPA IPB University mengadakan talkshow edukatif bertemakan Literasi Cuaca dan Iklim untuk Bumi Lestari di Auditorium SIT Insantama, Kecamatan Bogor Barat pada Senin 27 Oktober 2025.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan pemasangan alat pengukur cuaca Automatic Weather Station (AWS) yang dapat diakses secara online dengan titik di SIT Insantama Bogor.

Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMP IT Insantama M Iqbal Maulidi memaparkan, pihaknya bersama departemen GFM FMIPA IPB University mengadakan talkshow edukatif bertemakan literasi cuaca dan iklim untuk Bumi Lestari yang diikuti seluruh siswa SMP IT Insantama, perwakilan orang tua siswa, dan para tamu undangan. 

"Tujuan mengadakan acara ini lebih menekankan pada pemahaman tentang Perubahan Iklim dan dampaknya serta mendorong aksi berbasis literasi dari generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan," ungkap Iqbal kepada wartawan.

Iqbal memaparkan, talkshow ini menghadirkan 3 narasumber pakar bidang perubahan cuaca dan iklim dari Departemen GFM FMIPA IPB University. Narasumber pertama yaitu Ketua Departemen GFM FMIPA IPB University Dr. Ana Turyanti yang membahas tentang perubahan iklim. Sementara dampak dari perubahan iklim ini menjadi materi narasumber kedua yaitu Dr. Ir. Rini Hidayati yang merupakan Direktur CCROM-SEAP IPB University. 

"Narasumber ketiga Kepala Laboratorium Terpadu Departemen GFM IPB University Dr Idung Risdiyanto,  yang membahas literasi alat pengukur cuaca. Beliau juga menginisiasi pemasangan alat pengukur cuaca atau disebut AWS (Automatic Weather Station) yang dapat diakses secara online dengan titik di SIT Insantama. Boleh dikatakan ini merupakan titik pertama dari sekolah di Kota Bogor yang memiliki alat pengukur cuaca berbasis internet," paparnya.

Iqbal menjelaskan, harapan dari adanya agenda ini mampu mendorong berbagai pihak untuk lebih peduli dan serius dalam isu perubahan iklim khususnya dalam dunia pendidikan dan literasi. Keterlibatan insan pers sangat penting untuk memperluas jangkauan kampanye literasi cuaca dan iklim ke seluruh pihak dalam dunia pendidikan. Terlebih, jumlah gas rumah kaca kali ini mengalami kenaikan signifikan/nyata dan bahayanya.

"Paru-paru dunia berupa hutan dalam kondisi normal memiliki kemampuan menjaga kestabilan suhu permukaan bumi. Namun kondisi hutan pun mengalami kehilangan tutupan hutan yang berubah menjadi non hutan secara permanen (ladang, pemukiman, tambang, dan lain). Menurut Global Forest Watch, bahwa Indonesia mengalami kehilangan hutan sekitar 203 ribu hektar pada tahun 2022. Tak cukup demikian, hutan juga mengalami penurunan kualitas ekosistem tanpa mengubah status lahan sebagai hutan," jelasnya.

Iqbal membeberkan, hal ini tidak boleh dibiarkan. Alam membutuhkan penanganan yang benar, tepat, dan berkah. Manusia sebagai khalifah seharusnya memberikan kemakmuran bukan kehancuran. 

"Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an surat Hud ayat 61, 'dia yang telah menciptakan kamu dari bumi dan menugaskan kamu untuk memakmurkannya'. Mari berikan kontribusi pikiran, tenaga, suara, tulisan, dan lainnya agar bumi lestari. Membangun generasi berbasis literasi akan membawa peradaban yang mulia. Kegiatan hari ini merupakan rangkaian acara Pra-Maca Expo yang akan digelar pada tanggal 7 sampai 8 November 2025 dengan mengangkat tema 'Berliterasi untuk Bumi Lestari'," bebernya.

Sementara itu, Kepala Laboratorium Terpadu Departemen GFM IPB University Idung Risdiyanto mengatakan AWS adalah inovasi dari IPB University. Pengetahuan yang melibatkan masyarakat, dalam hal ini anak sekolah. AWS hadir untuk mengukur suhu udara, kelembaban, angin dan lain sebagainya. 

"Ini awalnya untuk komunitas petani dan nelayan, dari pimpinan mendorong kami, agar ini diliterasi kan untuk anak sekolah. AWS ini selain mengukur cuaca, mampu memprediksi cuaca 3-10 hari kedepan. AWS basis prediksi perjam, bisa menjadi memprediksi peluang-peluang hujan besok bagaimana. AWS berbasis AI dan internet of think, servernya di kampus IPB University Darmaga," terang Idung.

Idung menjelaskan, dengan tema bumi lestari, anak usia dini harus dikenalkan dengan informasi cuaca dan iklim, supaya lebih clear kesadaran perubahan iklim. Fenomena yang terjadi bukan sekedar mitos, tapi bisa diketahui. Anak-anak ini sudah semakin dewasa akan bertindak berbasis data sehingga lebih objektif. 

"Ya, anak-anak bisa lebih rasional. Anak-anak disini akan dilatih, pengetahuan teknologi, koding, algoritma dan lainnya. Kalau mau belajar, bisa baik untuk kedepannya. Jangkauan AWS ini radius 5 kilometer, karena ini untuk pembelajaran, AWS dipasamg diketinggian 25 meter. Pada umumnya harusnya dipasang pada permukaan," pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani