Teror Matador
SEPAKBOLA hanya memberikan dua pilihan: terbenam setelah terhantam atau bangkit usai jatuh terkapar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Timnas Kroasia dalam kondisi jauh dari ideal ketika harus menjamu juara dunia Spanyol di Poljud, Rabu (7/10) dini hari WIB.
Mereka datang dengan bayang-bayang rasa malu usai menyerah 0-7 dari Inggris, belum lama ini.
Di tengah keterpurukan ini, gelandang veteran Luka Modric seperti akan mengikat tali sepatunya dengan sisa-sisa tenaga yang menolak habis. Dia masih ingin membawa negaranya bangkit. Dan misi itu tampak mustahil ketika harus menghadapi teror Tim Matador.
Di usia kepala empat, Modric harusnya sudah duduk di tribun, menikmati masa pensiun sembari melihat generasi baru meneruskan tongkat estafet. Namun, takdir sepak bola Kroasia terus-menerus memanggilnya pulang.
Di bawah asuhan pelatih Slaven Bilic, Modric tetap menjadi kompas emosional Vatreni.
Setelah dipermalukan oleh Inggris, publik Kroasia terluka. Publik akan menjadi saksi bagaimana seorang kapten tua mencoba mengumpulkan kembali kepingan mentalitas timnya yang hancur.
Ini bukan lagi soal taktik; ini tentang harga diri bangsa kecil yang selalu menolak untuk menyerah di hadapan raksasa. Modric tahu senjakalanya sudah dekat, dan ia tidak ingin mengingat lagalaga terakhirnya dengan kepala tertunduk.
“Kami harus menunjukkan warna asli kami. Harus ada perlawanan dan kebanggaan dalam diri kami, keinginan, kemauan, serta kebersamaan. Hal-hal seperti ini tidak boleh hilang hanya dalam semalam,” ungkap Modric.
Kroasia kini berada di posisi ketiga Nations League A Grup 3. Kekalahan dari Inggris membuat perjuangan mereka untuk memperbaiki posisi di grup semakin berat.
Bagi Modric, laga melawan Spanyol bukan sekadar pertandingan berikutnya.
Duel tersebut menjadi kesempatan bagi Kroasia untuk memulihkan harga diri setelah mencatat malam terburuk dalam sejarah mereka.
“Kami harus menyatukan kembali diri, tetap bersama karena pertandingan sulit lainnya sudah menunggu,” tegasnya.
Sementara itu, kontras dengan atmosfer melankolis di kubu tuan rumah, skuad La Roja datang membawa kegembiraan murni. Lamine Yamal menjadi simbol dari fajar baru sepak bola Spanyol.
Pemuda ini bermain sepak bola di level internasional seolah-olah sedang bermain di halaman belakang rumahnya: tanpa beban, penuh trik, dan selalu mematikan.
Dua golnya ke gawang Kroasia di pertemuan pertama membuktikan bahwa rasa hormat kepada pemain senior hanya ada sebelum peluit dibunyikan.
Bersama Nico Williams dan kolega, Yamal membawa energi muda yang kejam, yang tidak peduli dengan romantisme sejarah masa lalu lawannya.
Di ruang konferensi pers, pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, tidak hanya memuji bakat teknis Yamal, melainkan kepribadiannya yang matang.
“Keajaiban Lamine kembali kami nikmati hari ini, tetapi dia menempatkan keajaibannya untuk kepentingan tim.
Itu menunjukkan banyak hal tentang dirinya,” ujar De la Fuente penuh kebanggaan.
Di tengah sorotan global dan bayang-bayang nominasi peraih Ballon d’Or, Yamal tetaplah sosok remaja yang membumi. Ia bermain dengan kegembiraan anak-anak di jalanan Rocafonda—kampung halamannya— namun dengan kedewasaan mental seorang pemimpin masa depan.
Pertandingan melawan Kroasia bukan sekadar tentang tiga poin di Nations League atau perpanjangan rekor 40 laga tak terkalahkan Spanyol.
Laga malam itu adalah potret tentang bagaimana talenta luar biasa berpadu dengan respek yang tulus. Lamine Yamal telah membuktikan bahwa untuk menjadi yang terbesar, seseorang tidak harus mengecilkan para raksasa yang mendahuluinya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

