Trump Klaim Arus Minyak Selat Hormuz Pulih, Bahkan Lampaui Sebelum Perang

Donald Trump mengeklaim arus minyak melalui Selat Hormuz telah pulih bahkan melampaui level sebelum perang. Data menunjukkan ekspor Teluk terus meningkat.

Trump Klaim Arus Minyak Selat Hormuz Pulih, Bahkan Lampaui Sebelum Perang
Presiden Amerika Serikat Donald Trump

INILAHKORAN.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeklaim pengiriman minyak melalui Selat Hormuz telah pulih sepenuhnya dan bahkan melampaui tingkat sebelum perang dengan Iran pecah.

Trump menyampaikan klaim tersebut kepada wartawan pada Selasa. Ia mengatakan jutaan barel minyak kembali mengalir melalui jalur strategis tersebut dalam beberapa hari terakhir.

"Jutaan barel minyak telah dialirkan hanya dalam beberapa hari terakhir," kata Trump kepada wartawan, Selasa.

"Kita dapat melihatnya mengalir pada taraf yang setara atau bahkan melampaui jumlah sebelum perang," tambahnya.

Klaim Trump muncul di tengah pemulihan arus ekspor minyak dari kawasan Teluk. Data yang dikutip Reuters menunjukkan ekspor minyak Teluk, di luar Iran, mencapai lebih dari 81 persen level sebelum perang pada September. Namun, arus produk olahan masih jauh di bawah kondisi sebelum perang.

Perang AS-Israel dan Iran Ganggu Selat Hormuz

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel pecah setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Teheran kemudian membalas dengan melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah titik di kawasan Timur Tengah.

Pada pertengahan Juni 2026, Teheran dan Washington mencapai kesepakatan untuk mengakhiri permusuhan. Namun, pertempuran kembali pecah tidak lama kemudian.

Hingga kini, konflik antara kedua pihak masih berlangsung dan belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Selat Hormuz Jadi Jalur Penting Pasokan Energi

Eskalasi konflik sempat mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman minyak, produk petroleum, dan LNG dunia.

Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati Selat Hormuz. Pemulihan pengiriman melalui jalur tersebut berlangsung secara bertahap setelah sebelumnya mengalami gangguan akibat konflik.

Reuters melaporkan ekspor minyak mentah dan kondensat dari kawasan Teluk mulai kembali mendekati level sebelum perang. Namun, tantangan logistik dan keamanan masih membuat biaya pengiriman serta asuransi tetap tinggi.

Selain itu, sebagian pengiriman minyak dialihkan melalui jalur alternatif. Arab Saudi, misalnya, kembali meningkatkan penggunaan jaringan pipa East-West yang menghubungkan ladang minyaknya dengan terminal ekspor di Yanbu.

harga minyak Masih Tertekan Konflik

Gangguan terhadap jalur perdagangan energi selama konflik mendorong kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.

Meskipun arus ekspor minyak mentah kawasan Teluk mulai pulih, harga minyak masih berada pada level tinggi karena risiko keamanan, gangguan logistik, serta keterbatasan pengiriman produk olahan.

Pada awal Oktober, harga Brent masih berada di sekitar level 100 dolar AS per barel di tengah ketegangan yang berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pulihnya arus minyak mentah belum sepenuhnya menghilangkan tekanan terhadap pasar energi global.***


Editor : JakaPermana